Konsep Kepemilikan

Oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fans Page: abah ihsan official
This is very important Mom & Dad! Swear!

Mengajarkan konsep kepemilikan (prinsip isti’dzan) pada anak dari kecil sangat bemanfaat untuk buah hati Anda belajar menghargai. Jika dibiasakan, hasilnya, kepada saudaranya saja ia tidak akan berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin. Apalagi barang orang lain bukan?
It’s different!

Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit dan tidak berbagi. Ini sangat beda jauh. Mengajarkan konsep kepemilikan juga tidak mengajarkan anak untuk egois dan jadi terus berantem. It’s totally different.

Mari kita mulai dengan salah satu cerita berikut ini:

“Abah, anak sulung saya 5 tahun kurang, adiknya 16 bulan. Si sulung kalo liat APAPUN yangg dipegang adiknya (makanan, buku, mainan, pokonya APAPUN) pasti direbut dengan kasar sambil bilang “punya aku!!” Ya si adik menangislah dengan hebohnya karena langsung asik di pegang tau-tau dijabel.

Kami ayah dan bundanya selalu menerapkan apapun yang ada di rumah kita adalah milik bersama jadi boleh dipakai oleh siapapun, boleh berbagi, bergantian. Tapi ya gitu deh, kejadiannya selalu terulang lagi dan lagi. Jadinya saya kelepasan agak marah sama Si kakak gara-gara ini.
Harus gimana yaa sikap saya-nya ke Si kakak maupun adik?”

Sungguh dalam konteks ini, menganggap semua barang yang juga sudah dikasi ke satu orang anak MENJADI MILIKI BERSAMA adalah tidak FAIR! Mari kita rubah dengan mengajarkan KONSEP KEPEMILIKAN pribadi dan ini sangat jauh berbeda dengan KONSEP MILIK BERSAMA.  Tentu saja tanpa menghilangkan masih ada barang-barang di rumah yang menjadi milik ‘public’ sehingga semua orang termasuk anak kita juag boleh menggunakannya. Dengan diajarkan konsep kepemilikan anak-anak belajar untuk menghargai privasi orang lain. kecuali, benar-benar barang itu memang milik umum yang tidak ditujukan untuk satu orang anak (televisi, kursi, dll)

Saat seorang ayah memberikan satu mainan sama si kakak, maka totally barang itu sekarang milik Kakak bukan milik ayah lagi. Demikian juga saat ibu memberikan satu barang sudah dikasi ke adik, maka barang itu sekarang miliki adik, bukan milik ibu lagi.

Maka, setelah itu akan berlaku bahwa semua orang TIDAK BOLEH menggunakan barang orang lain tanpa izin. Termasuk barang saudaranya. Seorang kakak boleh menggunakan mainan, pinsil, atau apapun punya adik, jika dan hanya jika meminta izin pada adik dan adik mengizinkan.  Bahkan, saat saya MEMINJAM PINSIL ANAK SAYA, maka saya akan minta izin pada anak saya. Karean ketika saya memberikan pinsip anak saya, maka saya sudah meng-akadkan barang itu miliki anak saya.

Bisa saja bagi saya tanpa sepengetahuan anak saya untuk menggunakan pinsip itu tanpa izin anak saya. Lah wong uangnya dari saya. Tapi saya tidak memilih jalan itu. Saya ingin memuliakan anak saya. Saya ingin menghargai anak saya. Bahwa ia punya privasinya sendiri.

Pada kenyataannya, jika terjalin ikatan emosional positif orangtua anak, maka sampai saat ini rasanya sangat jarang anak-anak saya, insya Allah, untuk tidak mengizinkan saya menolak ‘peminjaman’ itu. Ini baru contoh sepele.
Tapi prinsipnya harus kita pegang: Seorang ayah atau seorang bunda yang telah memberikan mainan untuk si kakak, ketahuilah barang itu menjadi miliki si kakak. karena itu orangtua tidak berhak mengatakan “BARANG ITU KAN DARI MAMA JUGA YANG BELIKAN, JADI BARANG ITU PUNYA MAMA JUGA!”
Saat orangtua memberikan barang sama si kakak, maka ia telah berakad memberikan barang punya kakak, maka sejak saat itulah barang itu miliki si kakak, bukan milik orangtua lagi.
Ini berlaku juga untuk si Adik jika adik hendak menggunakan barang kakak, maka hanya boleh jika minta izin dan diizinkan oleh si kakak.
Untuk menerapkannya tentu butuh ketegasan dan konistensi dari orangtua. Pada praktiknya orangtua akan diuji oleh: kemarahan, tangisan, rengekan, rayuan, bujukan dari seorang anak.  Ketegasan kita akan menentukan berhasilnya konsep ini atau tidak pada anak kita.

Apa gunanya mengajarkan konsep kepemilikan di rumah kita untuk masa depan anak? Perhatikan, jika kita bisa mengaplikasinnya di rumah, dampaknya insya Allah akan luar biasa bagi anak kita.
Lah dengan saudara sendiri saja ia tidak berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin, apatah lagi kepada orang lain bukan? Ia takkan seenaknya menggunakan, memanfaatkan barang orang lain tanpa hak!
Insya Allah ini menjadi habbit yang berharga untuk masa depan anak di tengah hari orang begitu seenaknya untuk menjarah barang dari toko orang lain saat kerusuhan, menjarah ‘pulsa’ telepon kantor untuk kepentingan pribadi, menjarah uang perusahaan dengan memark-up biaya proyek atau biaya perjalanan dinas dan lain sebagainya.

DELETE kamus kuno seorang kakak harus mengalah sama adik!

Kebenaran harus ditentukan oleh kebenaran itu sendiri, bukan oleh usia. Bahwa seorang adik akan menangis karena si kakak tidak mengizinkan, itu sih biasa. Insya allah jika kita konsisten, nangisnya tidak berlangsung lama. Dan hanya menjadi bentuk kekecewaan sementara dari anak. Jika kita konsisten, anak akan tahu bahwa menangisnya tidak akan pernah menjadi pembenaran untuk mengambil barang yang bukan miliknya tanpa izin.

Jika barang itu memang tidak diakadkan dari awal miliki satu orang anak, berarti memang barang ini MILIKI BERSAMA seperti televisi, komputer yang hanya satu, sofa, meja makan dll. Maka solusi untuk soal ini adalah buat SOP bersama. Misalnya “siapa yang duluan menggunakan maka ia berhak lebih dahulu menggunakan”, maka yang belakangan tidak berhak untuk menyerobot. Atau SOP lain adalah bergantian.  Tentang ini saya telah membahasnya secara detail dalam tulisan saya yang lain “BERANTEM ITU BAIK” (silahkan baca tulisan saya tentang mengelola berantem anak di sini: http://www.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/berantem-itu-baik/433233745699)

Turunan dari SOP dan aturan tadi adalah seorang anak berhak dan boleh membela diri jika barangnya diambil tanpa izinya. Saat mainan adik diambil kakak, maka adik berhak untuk mengambilnya kembali jika tanpa izin adik dan juga sebaliknya. Orangtua boleh ikut intervensi jika ada kekuatan tidak seimbang (si kakak memiliki tenaga lebih kuat sehingga dapat mengintimidasi si adik untuk memaksanya memberikan).  Orangtua di sini boleh bertindak sebagai ‘penguasa’ yang memang mengatur jalannya ‘pemerintahan’ sehingga tidak ada ‘rakyatnya’ yang dirugikan oleh orang lain hanya karena tidak berdaya.

Mempertahankan hak adalah kewajiban. Karena itu juga saat seseorang didzalimi ia boleh membela diri atau bahkan untuk melawan! dan bukan malah sebaliknya: MENGAJARKAN MENGALAH!

Bahwa damai adalah baik itu sudah tidak usah diragukan, tapi damai tidaklah sama dengan kita diam dan mengalah saat orang lain merampas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kita. Damai berarti kita mencari cara-cara sehingga semua pihak tidak ada yang dirugikan dengan cara-cara yang tidak destruktif.

Apakah menerapkan konsep kepemilikan sama dengan mengajarkan anak pelit? Wah ini sangat berbeda dan memang beda judul. Perbedaan ini seperti antara timur dan barat.
Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit. Mengajarkan anak untuk berbagi (kebalikan pelit) tentu adalah kewajiban kita orangtua. Tetapi mengajarkan berbagi tidaklah sama dengan mengajarkan anak untuk diam saat haknya diambil oleh orang lain.

Anak harus difahamkan dulu tentang kepemilikan. Saat anak sudah faham tentang ini, barulah di waktu lain anak diajarkan berbagi. Maksudnya begini: misalnya saat seorang adik ngambil mainan punya kakak, seorang kakak berhak untuk tidak mengizinkan atau memberi pinjam mainan tersebut. Tanpa paksaan siapapun. Tetapi di waktu lain, di waktu yang lebih tenang, kita ajarkan bahwa berbuat baik, memberi, termasuk memberikan pinjaman adalah kebaikan.

“Begini nak, kamu boleh makan kue kamu sendiri jika kamu suka, tapi jika kamu membagi kue kamu untuk saudara kamu dan saudara kamu senang, maka itu jauh lebih baik dan akan dinilai kebaikan oleh Allah”.

@abahihsan

Berburu Ilmu

Sabtu kemarin saya & suami mencari ilmu sampai ke kebayoran baru. Sebenernya si yang ngikut sharing session tentang parenting itu saya aja, mas suami bonding sama Aisha. Hehehe. Acara nya di daycare gitu jadi Aisha puasa main-main.

Jadi, kemarin dapat info dari kak Eka(senior campus) ada acara sharing session tentang parenting & pendidikan anak usia dini. Merasa butuh ilmu untuk mengupgrade diri sebagai orangtua, akhirnya daftar lah saya.

Sadar banget kalau tantangan menjadi orangtua di zaman sekarang itu dapat serangan dari berbagai arah. Serangan berupa gadget addict, drugs (even digital drug), sex & lgbt. Sebenarnya dulu pun waktu saya masih sekolah hal-hal drugs & sex sudah jadi bahan obrolan tapi kan sekarang medianya makin banyak jadi makin uncontrolled ga sih.

Oleh sebab itu sebagai orangtua harus menjadi orang pertama yang dipercaya anak untuk cerita apa aja. Ya, apa aja. Tapi untuk bisa sampai level itu tentu ada hubungan yang harus dibangun. Nah, mulai dari kandungan-7th lah menurut saya hubungan itu dapat dibangun. Masa-masa dimana otak anak saya mudah menyerap apapun yang dilihat. Tapi pengasuhan anak masih harus diawasi sampai anak masuk ke jenjang kuliah ya.

Anak itu belajar dengan cara melihat bukan mendengar makanya cara termudah adalah dengan mencontohkan. Dan apabila masa kecil kita tidak mendapat role model dari orangtua, kita bisa kok memutus itu. Ambil positif nya, belajar dari negatif nya. Try to talk with your inner child first. Karena bisa aja tanpa sadar kita akan memperlakukan anak kita seperti saat orangtua kita memperlakukan kita. Belajar, belajar, dan belajar.

Kepercayaan serta contoh positif yang kita tanamkan ke anak akan menjadikan anak kita berkarakter. Karakter yang akan membawa anak menjadi anak yang sukses. It’s not only about academics.

Gimana si agar kita bisa menginstal hal-hal positif ke anak kita?

  1. Puji perilaku nya bukan orangnya. Tegur perilaku nya dengan adab yang baik.
  2. Apabila anak meminta perhatian kita, jangan abaikan. Tapi perlu juga kita ajarkan untuk menunggu dengan konkrit. Misal :”bu, sini deh bu Aisha mau cerita” berhenti cuci piring, hampiri & tatap mata anak “mau cerita apa aisha? Aisha boleh cerita tapi tunggu 5 menit ya ibu selesai kan cuci piring nya dulu”
  3. Berempati saat anak bercerita meski menurut kita hal itu biasanya aja.
  4. Tidak membawa permasalahan kantor/bisnis ke rumah. Focus on your children.
  5. Jangan ancam anak. Perlu dibuat kesepakatan jauh sebelum kegiatan dilakukan. Misal : Nanti, aisha 2 jam lagi makan siang sama sayur ini & lauk itu baru sehabis makan kita pergi ke taman.
  6. Perlu briefing anak sebelum pergi ke suatu acara. Hal ini agar anak ga kaget dan bosan apabila tidak ada kegiatan yang dilakukan. Bosan -> mencari kegiatan/perhatian orangtua -> mungkin berakhir rusuh. Pilih kegiatan yang sekiranya sesuai dengan anak & kondisi acara.
  7. Berinteraksi saat bermain dengan anak karena anak menikmati kebersamaan bukan barang yang dimainkan.
  8. Pillow talk : ucapkan terima kasih atas sifat & perilaku baik nya selama 1 hari serta review hal-hal yang tidak baik dari dirinya.
  9. Last but not least adalah bekerja sama mendidik anak dengan pasangan. Harus punya visi misi yang disepakati. Yang paling utama adalah ajak Ayah berperan aktif dalam pengasuhan.

Mudahkan? Hihi saya juga masih belajar kok. Belajar menjadi orangtua betulan bukan kebetulan 😄

Dalam pengasuhan pun suka ada kekeliruan yang terkadang tanpa sadar kita lakukan, seperti

  1. Tidak mengambil tanggung jawab
  2. Kancil: kalau pintar harus “minterin” orang. Duh, 2 di atas kelewatan, kudu diinget2 lagi sama nanya orang deh hahaha.
  3. Bohong. Ini nih yang suka tanpa sadar kita sendiri yang mengajarkan bohong ke anak “mba, kalau ada dari yayasan bilang aja mamah ga di rumah”
  4. Labelling. “Iah nih, anak saya bandel sukanya berantakin meja” kalau anak dengar dia malah akan semakin bandel karena dia merasa dia dipercaya anak yang bandel
  5. Fokus terhadap masalah/kekurangan. Dari smua hal positif yang dilakukan oleh anak hari ini tertutupi oleh 1 hal buruk (mecahin gelas)
  6. Mengancam tapi tidak melakukan. “Kalau kakak masih main hp. Hp nya mamah buang!” You should do that. Buang hp nya!
  7. Menanamkan believe yg salah. “Matematika itu susah nak, harus Les ya” ini udah mindset ke anak kalau matematika tuh susaaahhh
  8. Solusi disuapi. Gampang bantu anak atau mengkoreksi anak akan melemahkan sistem kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. “Ini, mamah beli in satu2 ga usah ribut” tawarkan untuk mereka menyelesaikan atau beri beberapa solusi yang dapat mereka pilih.
  9. Malas. Hal yang tersulit dalam pengasuhan adalah malas mengupgrade diri dengan belajar sebanyak-banyaknya.
  10. Fokus pada DUNIA. Kenalkan anak terhadap pilihan-pilihan masa depan yang tidak melulu soal uang. “Ngapain si nak jadi guru, mending jadi dokter uang nya banyak”

Ahhh.. banyak lah ilmu yang harus saya pelajari dan semoga dapat mempraktekannya. Harus sabar karena smua itu ada proses nya. Ketika berhadapan dengan anak-anak yang perlu disadari adalah

  1. Memahami perbedaan cara belajar anak dg orang dewasa. Anak-anak akan penggunaan seluruh inderanya saat mengeksplorasi. Bagi anak yg penting adalah proses bukan hasil (cuci tangan-> lagi eksplorasi air) hal yg dipelajari dan dinikmati anak.
  2. Perlu memberikan ruang untuk anak berekspresi asal masih aman, tidak merugikan orang lain, tidak melenceng dari Norma agama dan kesopanan
  3. Paham bahwa anak belum berekspresi dg benar : teriakan, pukul, bisa jadi bentuk ekspresi sayang. Ajarkan bagaimana menunjukkan emosi dengan benar.
  4. Sadar ketika emosi kita tidak stabil sehingga perlu waktu rehat sebelum kembali menghadapi anak-anak
  5. Sadar yang dewasa adalah kita. Jadi ga perlu ikut bersikap kekanakan.

Ingat lagi satu hal bahwa

Children see. Children do.

Maka kita harus dapat berfikir dampak apa yang akan terjadi pada anak apabila kita melakukan hal tersebut.

Terakhir, selalu berdoa agar anak kita selalu dalam lindungan Allah SWT & kita sebagai orangtua diberikan ilmu pengasuhan & dipertemukan dengan orang-orang yang se-visi.

Good luck, parents 😘

Dear Aisha

Pupuklah hati mu dengan Cinta sehingga kamu akan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah
Tumbuhlah menjadi anak yang memiliki jati diri positif dengan begitu kamu tidak akan terbawa arus karena kamu yang membuat arus mu sendiri

Besarlah menjadi anak yang lapang dada dengan begitu kamu tidak akan menggerutu kepada keadaan melainkan belajar terus tentang kehidupan dengan rasa senang

Dear Aisha,

Ingat kan selalu kami-orangtua mu-untuk memberikan bekal yang kamu butuh kan agar kamu tumbuh menjadi anak berkarakter dan mampu meraih cita-cita mu. Memberikan Cinta sebesar yang kamu inginkan.

Cita Cita

“menjadi ibu yang bisa meluangkan waktu lebih untuk keluarga & sosial tapi tetap punya penghasilan yang bisa membantu perekonomian keluarga

besar

Amin aminnn, semoga bisa terwujud dalam waktu 1-2 tahun mendatang.
=D

Nahh, untuk permulaan nih. Saya mulai deh dengan berjualan online di instagram. Awalnya saya buka @pippo_outfits yang berisi keperluan sandang para bayi dan balita.

image

Trus dapat tawaran nge-jualin buku edukasi berbentuk bantal. Akhirnya kepikiran lagi buat 1 lagi. Namanya @momgoods. Disitu akan berjualan keperluan para mommy.

image

Yahh, memang pendapatannya belum sesuai harapan karena masih belum totalitas disana hehhee.. inshaallah bisa segera terwujud cita-citanya. Amiinnn,

Oia, @pippo_outfits lagi ngadain giveaway niihh..

image

Caranya gampang banget dehh..
1. FOLLOW akun instagram @pippo_outfits
.
2. REPOST foto ini dengan menyertakan hastag #PippoOutfitsGiveaway .
.
3. TAG kita dan 5 teman kamu di dalam foto yang kamu repost
.
Pemenang akan diundi berdasarkan pencarian hastag #PippoOutfitsGiveaway dan diumumkan tgl 12 Juli 2015.

Terimakasih untuk partisipasinya yaaa..

#giveaway #giveawayindonesia #giveawayindo #giveawayjakarta #freegift #gratisan #maooshoes #spamlike #promoramadhan #promojakarta #giveawaycontest #carigiveaway #prewalker #babyshoes #trustedseller #trustedonlineshop

Dear reader, hayukk join giveaway ini hihihi..

Have a nice weekens yaaa..

Petualangan Menyusui

Bagaimana kehidupan setelah menjadi Ibu?

Seru & menyenangkan. Terkadang melelahkan mungkin karena belum terbiasa, nanti kalau sudah terbiasa juga ga akan terasa.

Saat menjadi ibu, semua perlu dipelajari dari mulai mengurus bayi, mendidik bayi sampai urusan ‘Nenen’ ternyata ada ilmunya. Ya, semua ada ilmunya dan sebagai orangtua tidak boleh berhenti mencari ilmu. Saya sendiri sampai detik ini masih berusaha untuk tidak malas mencari ilmu.

image

Dari banyak hal, kali ini mau sharing soal petualangan saya dalam menyusui.

Waktu saya hamil, saya berfikir dan berkeyakinan kalau ASI adalah hak seorang bayi dan pasti dapat keluar begitu saja. Jadi, yang saya  pelajari adalah bagaimana menyimpan ASI perah, berapa lama daya tahan ASI perah, berapa botol ASI perah yang harus saya simpan agar bayi saya bisa ASI eksklusif, bagaimana menyajikan ASI perah serta kapan saja ASI perah diberikan.

Selama sebulan setelah melahirkan,saya sibuk pumping & menghitung jumlah botol yang berhasil saya simpan sampai saya terkadang lupa membangunkan Aisha untuk mimik. Saat itu, dalam sehari saya bisa menyimpan 1 botol tapiiii 1botol dalam 3-4x pumping. Saya masih berfikiran kalau itu wajar. Everything it’s okay.

Sebulan berlalu,berat badan Aisha hanya naik 200gr. Saya disarankan untuk memberikan 10-20ml ASI perah untuk menaikkan berat badan Aisha oleh dokter dari klinik laktasi. Sedihnya, disitu tidak dievaluasi manajemen laktasi saya.

2 Minggu kemudian saya kembali ke dokter yang berbeda untuk imunisasi Aisha. Disitulah si dokter langsung menyarankan saya untuk memberikan tambahan susu formula untuk Aisha disamping nenen. Hal ini dilakukan untuk menaikkan berat badan Aisha ke kurva normalnya. Sedih banget si dokter langsung berkata seperti itu. Tapi saya masih bersikeras untuk tetap memberikan Aisha hanya ASI. Akhirnya, dokter setuju untuk memberikan ASI perah yang telah saya kumpulkan sebagai booster.

Tamparan itu bikin saya semangat mencari tau bagaimana agar ASI saya dapat mencukupi kebutuhan Aisha. Segala hal saya lakukan dari pijat oksitosin, makan ini itu, belajar hypno-breastfeeding dan lain-lain.

Saya kejar-kejaran sama waktu karena sebentar lagi saya harus kembali kerja dan Aisha masih harus terus dibooster dengan ASI perahan. Setiap ada waktu, tengah malam sekalipun saya usahakan untuk pumping.  Tertekan dan semakin tertekan membuat ASI saya justru makin tidak lancar. Malah saya sempat berfikir untuk resign agar saya bisa selalu sama Aisha dan memberikan ASI eksklusif.

Sampai saya pasrah, disuatu malam saya membaca sebuah artikel di Aimi-asi.org kalau menyusui itu harus ikhlas. Bukan berarti
menyerah melainkan tidak terbebani. Peran suami dan keluarga memang sangat sangat berarti. Harus satu visi dan misi.

Dengan segala dramanya, Beberapa minggu menjelang masuk kantor, akhirnya saya sepakat untuk menambah susu formula jikkaaaa ASI perah saya belum mencukupi kebutuhan Aisha. Suami saya tetap berusaha melapangkan hati saya. Begitupun mamah, “Aisha inshaallah tetap sehat dan jadi anak pintar meski dicampur dengan susu formula. Buktinya kamu dulu juga anak susu formula, sekarang sehat dan pintar kan?. Sekarang aja ada ruang untuk tetap memberikan ASI eksklusif mulai dari alat pumping dll nya, dulu mana ada. Yang penting kamu tetap memberikan ASI, seberapapun itu sangat berarti buat Aisha”

Disitu saya mencoba melapangkan hati saya, mungkin ini memang takdir. Tapi saya tetap semangat pumping di kantor dan membawa botol-botol penuh cinta untuk Aisha. Seberapapun itu. Malah jika Allah mengijinkan, saya ingin terus nenenin Aisha sampai ia 2tahun.

image

ASI itu makanan terluarbiasa yang Allah ciptakan.

image

image

image

image

Tidak saya pungkiri. Saya sangat mendukung ASI ekslusif. Tapi saya berhenti untuk menghakimi para ibu yang pada akhirnya mencampur ASI dengan susu formula ataupun full susu formula. Ya, karena manusia diciptakan berbeda-beda. Seperti halnya, ada yang cepat hamil, menunggu hamil sampai belum diberi kesempatan untuk hamil. Allah pasti punya rahasia indah untuk kita.

Bersyukurlah untuk para ibu yang ASI nya lancar dan berlimpah. Tetap semangat lah untuk para ibu yang ASI nya seperti saya. Semua ibu semangat yaa untuk menyusui karena ASI adalah hak bayi mu.

Oiah, Aisha sekarang udah mau 4 bulan. Doakan yaa semoga Aisha selalu sehat, jadi anak sholehah, cerdas & pintar, cantik hati & parasnya serta menjadi anak yang selalu memberikan energi positif.
image

Happy Breastfeeding.
Love love love.
-Ibu nya Aisha-

Our Little Angel

Assalamu’alaikum,
Sudah cukup lama ga mampir kesini.. iah, sekarang lagi punya kegiatan baru yang seru dan mengharu biru..

Sambil nemenin bobo dan pumping, mau ceritain sebuah moment tak terlupakan pada tgl 26 Feb 2015.

Jadi, masuk kehamilan trisemester 3 tiap malam itu hobi banget bolak-balik ke wc. Sampai tengah malam kok ya ada yang beda, air kecilnya bercampur lendir dan itu setiap buang air kecil.

Pagi harinya pas subuh, berasa mules yang teratur setiap 5 menit dan mulesnya cuma berlangsung kurang dari 1 menit. Akhirnya minta mas doni buat nunggu sampai setengah 7, buat mastiin ini bukan kontraksi palsu.

Jam set 8 mutusin buat ke rumah sakit dengan pertimbangan jarak tempuh, macet dan mules yang masih bisa ketahan.

Sampai rumah sakit jam 10an, masuk ke ruangan observasi. Disana dicek urin, invus dan alhamdulillah udah pembukaan 1. Waktu di tensi, eh ternyata tekanan darahnya tinggi. Dokter Bote yang biasa nanganin kehamilan, datang sekitar jam 12an dan dicek lagi sudah pembukaan 4.

“Dit, ini kalau tensinya tinggi terus kita operasi aja yaa.. kalau dipaksa normal nanti kamunya bisa kejang-kejang”
Dhuarr, nangis lah gw karena gw sangat mengharapkan persalinan normal. Sama suster dikasih obat penurun tensi dengan harapan tensi gw bisa turun. Selang 30menit sampai 1 jam, gw ditensi lagi dan malah makin tinggi akhirnya dikasih obat lagi.

Memang, seminggu sebelumnya waktu kontrol mingguan tensi gw tinggi 130/90 klo ga salah dan dikhawatirkan preklamsia tapi alhamdulillah hasil cek urinnya normal jadi batal deh diinduksi saat itu juga.

Berusaha sebisa mungkin nenangin diri, yakinin diri kalau bisa normal sambil nahan sakit proses pembukaan. Lalu, mang Ahmad-adik dari bapaknya mas doni- nelpon dan bacain ayat-ayat al-qur’an biar proses kelahirannya lancar.

Sekitar abis ashar, suster masuk lagi buat ngecek. Alhamdulillah sudah pembukaan 6 tapi tensi masih tinggi 140/100 meski sudah turun dari sebelumnya. Disitu terdengar samar-samar kalau dr.bote lg kejebak macet dan galau mau operasi apa usaha normal sedangkan gw lagi ngerasain mules yang luar biasa.

Akhirnya gw masuk ruang bersalin sambil terus dicek kondisinya sama suster. Disitu pembukaan demi pembukaan berlangsung dan rasanya subhanallah banget. Sambil nahan sakit disuruh tidur nyamping dan terlentang berulang-ulang, cuma bisa istighfar sekencang-kencangnya.

Karena gw sudah pembukaan lengkap dan bu dokter masih kejebak macet, akhirnya dr.yuyun yang gantiin. Dr.yuyun yg lagi praktek diminta nanganin persalinan gw.

Itu perut udah mules dan ga ketahan akhirnya gw ngeden eh tapi disuruh tahan sama suster karena dokternya belum masuk ruangan. Terpaksa lah gw tahan-tahan sebisa mungkin. Pas dr.yuyun dateng, dia mau izin buat ganti baju operasi spontanlah gw larang dia. Akhirnya dia cuma pakai celemek plastik. Disitu gw langsung ngeden 2x dan teriakan kecil itu membahana.

Sesunggukan, senyum-senyum, terharu pokoknya campur aduk. Seorang gadis mungil berhasil keluar dengan berat 2900gr dan tinggi 47cm hari Kamis pukul 17.20 tanggal 26 Feb 2015.

image

Doakan yaa, semoga Aisha jadi anak sholehah, sehat jasmani-rohani dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Doakan juga saya dan suami bisa jadi orangtua yang sholeh dan dapat menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya..

Ini sahabat baru kamiii,

image

Wassalam..
H.A.D Family

Kegiatan

Sore matraman yang sepoi-sepoi..

Gak berasa udah masuk 8 bulan pernikahan hmm masih bisa dibilang pengantin baru lah yaa hahah..

Masih banyak yang harus dipelajari, dipahami, direncanakan dan dijalani.

Sebagai seorang istri (cihuyy..) dan calon ibu (amin..) , rasa-rasanya saya harus bisa beradaptasi sama beberapa kegiatan rumah tangga yang jujur nih ya, waktu masih gadis jarang atau bahkan hampir ga menyentuh kegiatan macam ini.

Seperti berbelanja ke pasar dan menentukan beli bahan makanan apa untuk seminggu kedepan dengan budget seminim mungkin tapi bikin lidah suami bergoyang (mulai berasa emak-emaknya)

image

Memasak sarapan atau makan malam tiap hari nya yang terkadang diburu waktu

image

Mencuci dan menyiapkan baju (meski kadang kalau kebanyakan suka melipir ke laundry dan ke rumah ortu sih hohoh)

image

Atau berdansa dengan sapu dan kain pel.

Oiah, dan mengurus Pippo Outfits atau bisnis lainnya yang lagi digarap bareng suami. Btw, mampir ya ke Instagram : @pippo_outfits nya hihihi (jualan cyiiiinnn)

image

Ah, terbaca seperti kegiatan rumah tangga sekali .. ya, dimana kegiatan itu dulunya jarang sekali kepegang sendiri dan sekarang sepertinya naluri ke-istri-an dan ke-ibu-an keluar dengan sendirinya. Kaya sudah tertanam di diri seorang wanita. Huahaha,

Begitulah,
Apalagi tinggal menghitung waktu menanti kelahiran “amanah” yang gak main-main, makin banyak hal yang harus dipelajari lagi. Belajar, belajar, belajar kayanya akan selalu begitu. (Bukan cuma kerja, kerja, kerja yaa *ups)

Have a nice weekend, blogger.

With love
Ny. Hizry