PERBINCANGAN *di atas kasur*

malam itu seperti malam-malam sebelumnya setiap kali saya kembali ke rumah, saya selalu terlelap disamping nenek saya. Yah, saya selalu tidur bersama beliau. Best woman beside my mom.

malam itu, beberapa hari *mungkin seminggu* berlalu setelah wafatnya om saya- it means that he’s my grandma’s son. Yap, om ndut *begitu saya biasa memanggilnya* berpulang ke Sang Khalik, ALLAH SWT, dikarenakan penyakit struk yang tiba-tiba saja menyerangnya.

malam itu, mbah saya sedang mengingatnya

mbah : om ndut itu gag pernah marah yah, sama anak dan istrinya apalagi, mirip kaeh *kakek saya*

saya : ….

mbah : gag sangka dia duluan yang pergi, padahal mbah aja yang udah seumur gini masih alhamdulillah di beri kesehatan

saya : iah yah, gag ada yang tau ya tentang umur..

disini saya melihat. siap atau gag, kita gag pernah tau siapa yang pergi lebih dulu menghadap sang khalik, kita atau orang tua kita. Yah.. siapkah kita ditinggal kedua orang tua kita? ikhlaskah kita yang lebih dulu pergi meninggalkan mereka?

Seandainya.. Ini hanya seandainya.. Seandainya saya dipaksa memilih saya akan memilih lebih baik saya yang ditinggalkan bukan saya yang meninggalkan.

“kok kesannya kamu egois si, ingin merasakan sendiri dunia kamu, merasa tidak ingin direpotkan lagi dengan urusan orang tua kamu”

tunggu.. Alasan saya seperti ini *sumpah, saya tidak ingin ini terjadi sekarang karena saya belum siap*

karena jika saya yang lebih dulu pergi meninggalkan mereka *kedua orangtua saya* saya belum bisa memberikan yang terbaik buat mereka dan dosa saya masih terlalu banyak.  Karena pernah suatu hari ada yang mengatakan bahwa di dunia sana orang tua akan dimintai pertanggung jawabannya mengenai anak-anak yang telah Allah titipkan. Saya tidak ingin membebankan dosa saya kepada mereka.

Dan jikalau saya yang ditinggalkan *tentu saja setelah saya sudah sangat membahagiakan mereka* saya akan jauh lebih keras berusaha menjadi anak yang beriman dan solehah. Karena (lagi-lagi) pernah ada yang mengatakan seorang anak yang soleh dan solehah akan menjadi amalan buat orangtua agar terselamatkan di dunia sana.

Yah, tentu saja saya tidak sangat mengharapkan ini terjadi (meskipun pasti akan terjadi). Cuma ini bisa jadi bahan renungan saya, bahan intropeksi saya, apakah saya sudah menjadi anak yang solehah dan membahagiakan kedua orangtua saya?

Ya Allah..

mungkin saat ini yang saya punya hanya serangkaian doa untuk mereka. Semoga engkau selalu memberikan berkah, rahmat dan kasih sayang kepada mereka. Lindungi mereka dari segala keburukan di dunia. Saya ingin selalu melihat senyuman mereka, tawa mereka, candaan mereka, tatapan hangat mereka, nasihat mereka, apapun tentang mereka. Berikan kesehatan untuk mereka agar mereka masih berkesempatan untuk melihat saya mendapat gelar sarjana, menerima gaji pertama saya, berkunjung ke tanah suci-Mu, melepas masa lajang saya, bercanda dan bergurau bersama anak-anak saya, dan saya berdoa agar mereka masih bisa menemani saya saat saya mendidik anak-anak saya kelak agar bisa sekuat dan seceria saya.

amin..

Terima kasih ya Allah atas limpahan dan berkah-Mu dengan memberikan saya kesempatan untuk bisa hadir ditengah mereka.

meskipun saya jarang sekali mengungkapkannya,

“mah, pak, mbah, dan adek.. tolong tetap hadir disamping saya. Syukur tak pernah berhenti terucap ketika bisa melihat senyuman kalian. Akankah kita bertemu kembali di dunia sana? Semoga iah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s