setiap detik itu berharga

keluar dari zona aman kita memang butuh keberanian, butuh kepercayaan diri serta butuh keinginan. Hahaha, gampang sekali diucapkan tetapi benar-benar butuh keinginan yang besar untuk melakukannya. Dengan keluar dari zona aman kita dan mencoba mengetahui hal lain di luar sana ternyata banyak sekali terselip pelajaran dari hal-hal kecil yang sering kali kita lupakan.

Siang yang panas itu banyak sekali memberikan saya pelajaran. Tentang bagaimana kita seharusnya tidak pernah mengulur sesuatu dan harus mempunyai perhitungan-perhitungan akan sesuatu yang bisa saja akan terjadi. Mengamati dan meresapi apa yang kita tangkap menjadi suatu hal lain yang seharusnya tidak begitu saja saya lewatkan.

Saat itu saya tersadar Jakarta sangatlah “PANAS”.

Di terminal Kp.Melayu siang itu, saya hanya punya waktu kurang dari 1 jam lagi untuk bertemu dengan pembimbing kape saya. Saya bersikukuh mencari bus yang harus saya naiki, saya memang anak Jakarta tetapi bukan berarti khatam Jakarta hahaha memalukan memang. Mengelilingi terminal Kp.Melayu membuat degup jantung saya berirama, “bismillah” kata-kata itu selalu terucap untuk memberikan saya ketenangan dan keamanan. *haha mungkin berlebihan menurut kalian. Tanya tukang ojek, begitu sesuatu yang membisikkan saya.
“pak, bus 916 tuh ke arah mana yah seharusnya?”
“oh disitu dek, emang adek mau kemana? jarang itu busnya”
“oh mau ke Thamrin pak, 916 ke arah Tanah Abang kan yah?! Makasih pak”

Panas, ruwet, bingung..
Menunggu dan menunggu, di pinggiran jalan dekat warung. Sampai saya tahu bis itu datang berkat seorang ibu yang hanya beberapa detik mengobrol sama saya. Di dalam lagi-lagi saya menunggu dan bahkan bertemu dengan keluarga yang tadi satu angkot juga haha. Oke bang, saya hanya punya setengah jam lagi, bisakah bus ini segera berangkat?? menggerutu di dalam hati lalu menyalahkan sana-sini, kenapa tadi ga naik ojek aja? kenapa tadi ga gini aja daan sebagainya.

beberapa menit setelah saya menggerutu di dalam hati akhirnya bis melaju juga. Lalu tiba-tiba ada seorang ibu di belakang saya menepuk saya.
“dek, ibu baru saja kehilangan hp, gelang, dompet di sana. Ibu boleh minta 5rb? rumah ibu di Tangerang”
Saya berdoa di dalam hati, takut kalau ini adalah motif hipnotis yang sering ada di tivi-tivi. Posisi ibu itu masih di belakang saya, dan kami sekali-sekali mengobrol. Saya masih dengan rasa takut saya tetapi ada suatu hal yang lebih besar yang saya yakini akan melindungi saya. Pada saat itu saya merasa malu mengapa saya selalu menggerutu, menyalahkan, bukan mengintrospeksi.

Jam 2 sudah lewat dan itu artinya saya sudah terlambat, ingin menangis rasanya. Posisi saya masih di Senen, dan ternyata disana macet total. Disini saya belajar, untuk bisa cepat dalam mengambil sebuah keputusan dan berhenti untuk jadi orang yang bingung dan plinplan. Saya turun dari bus setelah bapak yang duduk disamping saya memberitahu saya dibelokan sana ada pangkalan ojek. Celingak-celinguk nyari tukang ojek,
“neng, ojek neng!”
teriakan itu menyelamatkan saya. Si abang tukang ojek langsung ngebut “ati-ati ya neng dengkulnya”

Saya sampai di kantor dan terlambat setengah jam lebih. Seharusnya saya sudah tidak nyasar, ini sudah ketiga kalinya saya kesana tetapi entah mengapa siang itu saya merasa asing.
“Mbak mau ke lantai berapa? Oh, 21 yah? tadi kenapa gag naik lift yang kebuka tadi? itu sama saja mbak, tulisan di atas pintu lift gag ngaruh” Terimakasih, lagi-lagi saya ditolong. seharusnya saya berani bertanya bukannya sok tau kaya tadi.

okeh, saya telat 1 jam. Bapak itu baik tetapi jelas sekali ada mata yang seakan ingin memakan saya. 1 jam bersama si Bapak. Okeh, menjadi pendengar yang baik itu sangatlah susah, bukan hanya mendengarkan yah tetapi pendengar yang baik juga harus bisa menangkap apa maksud dari lawan bicaranya. Miskomunikasi disini sering terjadi dan selalu menghambat kerja. Saya disini juga jadi tahu kapan seharusnya saya diam dan kapan seharusnya saya berbicara dengan cara yang tepat kepada orang yang ada di depan saya agar mereka mengerti maksud saya.
Sabaaarrrrrr!!!!

Sepulangnya dari kantor, saya langsung menuju ke menteng ke kantor mamah saya. Superwoman.
“mamah kamu tuh wanita karir s3. Sangat super sibuk.” ucap rekan kerja mamah. Saya tersenyum.
Pulang bersama mamah, curhat apa yang saya rasa tadi. Mamah hanya tersenyum membiarkan saya bercerita. Akhirnya bus 213 datang, penuh parah, dan ini yang seharusnya diketahui para petinggi, gimana ga jarang terjadi pelecehan seksual dan pencopetan di angkutan umum, kondisi di dalam bus bener-bener sesak kaya gini, tangan beraksi juga tidak akan mudah diketahui. Gila, mamah tiap hari kaya gini? di rumah juga masih suka bawa kerjaannya, berkutat dengan kerjaan setelah mengurus rumah sampai tengah malam. Saya merasa tertampar dan malu akan curhatan saya tadi. hihihiihi..

Okeh, pelajaran di hari ini menurut saya begini:
* jangan lupa memasukkan kondisi tidak terduga saat akan memperhitungkan sesuatu
* berhenti mengeluh, menyalahkan disamping mengintrospeksi
* kejahatan akan dibalas dengan kejahatan tetapi tidak selamanya kebaikan dibalas kebaikan, makanya berbuat baik sebanyak mungkin dan berharap sedikit mungkin
* setiap detik yang kita punya harus dimanfaatin untuk sesuatu yang bermanfaat karena setiap detik itu tersimpan pelajaran-pelajaran yang sering kali kita lewatkan dan kita anggap tidak penting

^_^ salam panas jakarta ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s