tergantung IMAM

“ini solat taraweh apa sauna ya, basah semua gini baju gw haha”
begitu bunyi status saya di salah satu jejaring sosial selain facebook.
Tak lama berselang, komentar berdatangan..

Fiska bilang
senam tut
Fiska bilang
(gym)
ditut
kayanya sih, gpp lah biar langsing (gym)
mulino!
Wouw kyk teraweh di pga.. solat disitu pake training tut
ditut
kenapa mo? cepet yah solatnya? (woot)
Fiska bilang
haha…..kowe sisan fitnes po mulino!
mulino!
seumur2 aku mung 1x mrono. .periode ini aq blm mecoba

lalu ada cerita lainnya, dimana pada suatu malam saya sedang ber-ym ria dengan teman kampus saya yang kebetulan hanya beda 1 tahun.

Lala (bukan nama sebenarnya) : teteh cantiiikkkk, nanti kita tarwehan bareng yaahhh.
saya : iah, ntr klo akyuuuu udah di bandung kita tarwehaan yah di Masjid.X
lala : ogah ah! lama disitu.. mending di Masjid.Y ajaaaa hahaha
saya : jiah, jauh duuull dari kosan gw.. hahahhaa

dan seterusnya kita membicarakan perbedaan kecepatan antara Masjid.X dan Masjid.Y dengan bahasa konyol kita berdua.

dan kemarin malam saat saya sedang menunggu solat tarweh di masjid rumah, pengurus masjid memberi pengumuman bahwa solat tarweh akan diimami oleh Ust.X lalu salah satu ibu nyeletuk seperti ini
“wah, ustad itu bacaannya panjang dan kadang suka lupa ditengah-tengah nih. Hh,”

Hal ini yang menggelitik saya untuk beropini. Di lihat dari ketiga kasus di atas, dapat diambil benang merahnya kalau imam itu kurang lebih dapat mempengaruhi kegiatan solat berjamaah di masjid atau bisa jadi mempengaruhi banyak sedikitnya makmum.

Walaupun saya belum termasuk muslimah yang khatam masalah agama saya, tapi saya ingin sedikit memberi saran berdasarkan pandangan saya. Menurut saya, baiknya seorang imam memperhatikan dan mengetahui mayoritas dari makmumnya apakah orang-orang tua, karyawan kantoran, remaja atau mungkin anak-anak.

Jika mayoritas orang-orang tua-dimana kebanyakan sudah sulit bergerak-ada baiknya seorang imam tidak terlalu cepat gerakan solatnya, bisa-bisa encok semua jamaahnya-baru mau sujud’ eh imam udah selesai sujud-kasian kan jamaahnya. Tapi jangan terlalu lama dan panjang juga bacaan surah nya, kalau jamaahnya terlalu lama berdiri nanti kaki nya gemetaran dan bisa-bisa ambruk.

Lain halnya dengan jamaah yang mayoritas karyawan kantor, remaja dan anak-anak. Mungkin mereka akan senang jika gerakan imamnya cepat, apalagi kalau pagi harinya adalah hari kerja atau sekolah, itu artinya mereka akan lebih cepat pulang dan tidur. Jika terlalu lama, bisa dibayangkan bahwa mereka akan gerasak-gerusuk apalagi anak-anak, akan banyak gerakan tambahan di solatnya seperti garuk-garuk, ngelap keringat, dsb. Atau wajah mereka berubah agak masam-mungkin mereka mengeluh di dalam hati-dan hal ini membuat solat mereka menjadi kurang khusyuk.

Begitulah pendapat saya atas apa yang saya perhatikan terhadap lingkungan sekitar saya. Entah hasil ngobrol, hasil memperhatikan dan tidak sengaja mendengar keluhan, ataupun hasil pengalaman pribadi waktu saya masih anak-anak hingga remaja seperti sekarang. Saya juga masih belajar. heheh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s