Cinta sampai Disini

Bip..

“ahh bbm si sayang, pasti mau ngucapin anniversary ke 5 tahun kita pacaran deh. So sweet pasti nih”

Sayang, maaf

Sepertinya kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan pacaran kita ini,

Handphone Tia dengan manis meluncur dari tangan, berhamburan di lantai. Mata Tia kosong setelah membaca bbm dari kekasihnya itu. Tia keluar dari kamar kos nya, menyusuri dengan lunglai jalan setiabudi yang lengang di tengah malam. Malam jum’at terseram yang pernah Tia alami.

***

“yah bbm gw yang baris terakhir pending”

(pending) Karena aku rasa kita sudah layak ke jenjang selanjutnya sayang. Will you marry me, hon?

“gak kenapa deh, semoga Tia belum tidur dan masih di kosan”

Ginda sumringah menyetir mobil menuju kosan Tia, lagu-lagu romantis nya Kahitna menyelimuti malam jum’at terindah bagi nya. Tak sabar Ginda bertemu dan menatap wajah kekasih yang sangat dia sayangi.

“yess, belokan terakhir menuju kosan Tia. Sayangg, I’m coming.”

Ginda sibuk merapihkan bunga dan boneka yang duduk manis di kursi samping. Ginda terlalu bersemangat hingga

BUK..

Dentuman keras mobil Ginda dengan sebuah tubuh berhasil menyadarkan Ginda. Rem mobil diinjaknya keras, meski terlambat. Sesosok tubuh sudah terlanjur terkulai lemas di depan mobil Ginda. Seakan ada petir menyambar, Ginda terduduk lemas ketika dia melihat tubuh berlumuran darah itu adalah Tia. Dengan hati-hati Ginda merangkul tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa.

“arrrghhhh!” Ginda meraung-raung sambil tetap memeluk tubuh Tia yang mungil, tubuh orang yang dia sayangi.

***

Sebulan sudah Ginda terkurung di penjara. Sejak diputuskan sebagai tersangka, Ginda akhirnya mendapat hukuman penjara 3 tahun meski orang tua Tia sudah mengikhlaskan tetapi hokum tetap harus ditegakkan.

“bapak Ginda, kondisi tangan anda semakin memburuk. Langkah terbaik adalah mengamputasinya. Baik, tunggu disini ya pak, saya akan mengurus persiapannya.”

Lebih baik begitu, mungkin dengan begitu bisa menembus rasa bersalah gw sama Tia. Sudah sebulan gw kehilangan Tia, memukul-mukul jeruji penjara dan dinginnya tembok tidak sedikitpun mampu menahan rasa rindu gw selama ini ke Tia. Maafkan aku sayang, atau mungkin aku susul kamu saja? Yah, lebih baik aku susul kamu saja.

“bapak Ginda! tolong suster, panggil tim gawat darurat”.

Ginda tergeletak di lantai ruangan dokter, berlumur darah, dengan urat nadi di lengan sudah terputus dan pecahan kaca dalam genggaman, sesaat yang lalu ketika dokter sejenak meninggalkan ruangan prakteknya.

Selamat tinggal November, Sampai bertemu Sayang ku Tia.

Tulisan darah di lantai ruangan itu terlihat samar-samar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s