Category Archives: cerita (tak) pendek

Cerita sebelum tidur

Ah.. kamu tak lagi mengunjungi ku akhir minggu ini.. Mungkin aku yang harus mengunjungimu

****

Malam itu aku sangat terkejut ketika ia ada tepat disampingku. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya hanya seulas senyum manis yang tak pernah berubah. Badan ini sontak berlari memeluknya sambil terisak ku bisikan kata “jangan pergi lagii..”

Dan sepulang kerja, ku sempatkan diri mengunjunginya “Assalamu’alaikum..”

Lalu semua cerita meluncur begitu saja seperti mengulang kebiasaan lama sebelum waktu tidur tiba.

“Aku pulang dulu ya mbah.. makasih mau mendengar cerita-ceritaku” pamitku sambil mencium batu nisan dihadapanku.

Layar Anti Jenuh

Saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di tengah kampung padat penduduk yang dihuni oleh 2 orang dewasa, 3 anak berusia remaja dan 1 balita. Kehidupan saya hampir terjadi 24 jam dan beristirahat agak panjang hanya ketika PLN sedang lelah menyebar pasokan listrik ke rumah-rumah kecil dan lebih senang menyalurkan pasokan listrik ke gedung-gedung berduit.

Malam ini…

“Bang, gantian dong gw mau nonton Sinetron Mas-mas Ganteng Siluman”

“Minggir-minggir, lagi ada gosipnya si Artis itu operasi nih”

“Enak ya jadi artis, bisa beli mobil, rumah gedongan, jalan-jalan ke luar negeri. Pak, kerjaan bapak apa sih?”

“Bawel lo ah” jawab si Bapak sambil asik menggosok cincin batunya

“cakitnya tuh dicini di dalam hatiku” celotehan si bungsu sambil menirukan goyangan meliuk-liuk si penyanyi

“udah sana pada tidur, emak mau nonton Sinetron Istri yang diselingkuhin suami”

Blupp…

“yaaahhh mati lampuuuu..” suara mereka kompak.

Ahh syukurlah, setidaknya saya bisa beristirahat dari rutinitas para penghuni rumah ini.

Mimpi. Kamu.

“Sedang apa disini?”
“Duduk”
“Heeiii! Lihat! Semua orang sudah mengejar mimpinya. Mereka berlari, berjalan bahkan merangkak”
“Hmm, saya tidak tau apa yang harus saya kejar”
“Ayolaah, setidaknya bergerak meski kamu sendiri belum tau tujuan kamu. Tahukah kamu, dengan bergerak dari zona nyaman kamu ini, kamu akan menemukan hal-hal baru yang bisa jadi akan membuka hati mu untuk menemukan mimpimu”
“Bagaimana kalau akhirnya mimpi itu biasa saja, terlalu sederhana?”
“Mengapa tidak itu lebih baik daripada tidak punya. Setidaknya kalau kamu tau mimpi itu biasa saja berarti kamu tau mimpi apa yg luar biasa, kan?”
“Hmm, tapi saya harus bergerak kemana?”
“Kemana saja kamu mau”
“Bagaimana kalau tersesat?”
“Banyak yang bisa kamu tanya”
“Kalau saya tertipu?”
“Pasti ada orang baik yang akhirnya bisa kamu tanya”
“Orang ke berapa?”
“Keberapa saja. Aahh sudahlahh”
“Kenapa kamu jadi duduk disamping saya?”
“Saya sebelumnya seperti kamu, sampai akhirnya saya bertemu kamu dan saya jadi tau mimpi saya apa”
“Apa?”
“Menemanimu sampai kamu menemukan mimpi kamu”

Hadiah untuk Seorang Pria

“Ini kisah seorang pria berbadan kurus, anak rantau dari pulau sebrang” ucap ku sambil memeluk hangat seorang gadis kecil dengan mata yang masih membulat, tak sabar menunggu dongeng ku dimulai.

***

Seorang pria yang berasal dari kota batik merapihkan rambutnya yang basah terkena terik sinar matahari. Langkahnya menyusuri aspal yang bergerumul dengan butiran debu dan asap yang tersembur dari berbagai knalpot. Sampai malam menjelang, iah duduk lemas diemperan toko. “ah, susahnya cari kerja di Jakarta” ia peluk dengkulnya erat-erat. “Jangan mengeluh anak muda. Semoga kamu segera mendapatkan apa yang kamu cari. Melangkahlah terus.”. Pria berbadan kurus itu menengadah, tak didapatinya pemilik suara tadi. Air mata nya menetes ketika tersadar akan sebuah tasbih kayu beraroma yang tergeletak di atas tasnya. Dia genggam tasbih tersebut sambil melangkah mencari surau terdekat.

***

“itu lah cerita ayah mu sayang, seorang yang kini menjadi sosok kebanggaan mu” . “Lala sayang banget sama bunda, sama ayah. Lala ga akan nangis lagi kalau ayah sama bunda pulang kerja sampai malam” jawab gadis kecil ku memelukku erat-erat. Tak tau lagi apa yang ku rasa, mataku basah.

Dibalik Aku

Ku hirup dalam-dalam aroma torabika yang baru saja ku seduh. Ku cicipi sedikit cairan hitam manis ini sambil memandang ke jendela yang dihiasi kunang-kunang listrik berjejer di kaki gedung. “Indah ya pemandangannya” suara sapaan manis dan derap kaki kamu membuyarkan lamunan ku, ku balas dengan senyum lalu kau duduk disamping ku dan menggelayut manja sambil berbisik “indah seperti aku pastinya”.

*

“selamat pagi sayang,” sapaan pagi plus kecupan lembut mendarat di kening ku. Wanita cantik itu berjalan ke arah ku, mengusap kepala ku penuh kasih, bersandar manja di dada ku yang bidang lalu ku balas mengecup keningnya.

“suami ku sayang, aku selalu menanti weekend bersama mu seperti ini”

Aku tersenyum dengan tanganku yang mengusap lembut lengannya sedangkan tanganku yang lain membalas bbm mu.

R. sampai ketemu hari senin di kantor 🙂

Maaf, aku tak tau lagi dimana janji cinta itu kini berada.

Sorotan Tajam

Tak ku kira 1 roll film yang kita pakai berdua untuk merekam dialog tanpa kata di pojok terminal habis di frame ke-100 pagi ini.

Tepat ketika sorotan cahaya dari sebuah benda kecil yang memeluk manja jari manismu seketika menusuk mata lalu menembus sampai ke hati.

Putri hujan dan putra bintang

Hari ini adalah ulang tahun bangsa langit yang tepat ke seratus abad eksis untuk menaungi bumi dan jagad raya. Setiap hari sakral  ini, masyarakat langit selalu mengadakan semacam pesta internal kaum sosialita mereka. Makhluk yang sering bermain di langit seperti burung, capung, kupu-kupu dan suku lainnya yang bisa terbang kali ini tidak menjadi bagian dari pesta. Selain itu setiap 4 tahun sekali, Raja Petir sebagai kepala dari bangsa langit akan memilih kaum muda-mudi untuk mengikuti pelatihan bangsa langit di sekolah udara selama setahun, yang selanjutnya akan disebut sebagai laskar langit.

Semua Laskar Langit akan melalui 3 tahapan dalam pelatihan, tahap 1 adalah pemantapan materi penguasaan wilayah langit dan pengendalian ancaman dalam dan luar, lalu di tahap 2 para laskar langit akan dibekali studi kasus yang biasa terjadi di langit dengan terjun langsung ke beberapa wilayah yang ada di langit dan tahap 3 sebagai tahap terakhir yaitu tahap adaptasi di wilayah langit yang sudah ditetapkan oleh badan pendidikan laskar. Dari situ lah akan dilihat kecocokan para laskar langit dengan wilayah yang sudah ditetapkan untuk selanjutnya akan diikat ke dalam bagian persatuan anggota laskar di tiap wilayah tersebut.

“hallo semuanyaa, nama saya Rainita Martalia suku Hujan sebagai perwakilan dari wilayah 3” seorang gadis berperawakan gembil memperkenalkan diri di depan puluhan laskar langit kelompok jingga.5 dengan khas nya yang riang. “sok akrab” terdengar suara datar menyindir dari salah satu sudut kelas. Raini-nama sapaan gadis itu- tetap tersenyum ramah dan tidak memperdulikan suara tadi. Tak berapa lama, si pemilik suara datar tadi maju ke depan “Bintang Putra Aksara dari wilayah 8. Suku Bintang”.

Sebulan berlalu, semenjak perkenalan tidak ramah itu, hidup Raini tidak tenang. “heii, kamu tuh ga ada kerjaan lain ya Bintang? Ganggu hidup saya terus” “geer banget” “nyatanya?” “apa?” “terserahlah” “hmmm…” .

Pertengkaran antara Bintang dan Raini sudah menjadi buah bibir, bukan hanya di kelompok jingga.5 saja melainkan sebagian kelompok senior dan junior yang satu gedung di Sekolah udara. Sampai suatu hari, ketika makan siang, Bintang merebut sepotong kue coklat milik Raini. Tak mau kalah, Riani berteriak lalu berusaha merebut bola-bola vanilla milik Bintang sehingga membuat ruang makan menjadi ramai. “hati-hati loh kalian berdua, ntar lama-lama bisa saling suka” “iah bener juga tuh, eh tapi kan hujan dan bintang tidak pernah bisa muncul bersamaan di satu waktu”. Celetukan dari kedua Laskar Langit yang tidak dikenal ternyata ampuh membuat Bintang dan Raini diam seribu bahasa.

Entah karena celetukan di ruang makan siang itu atau karena alasan lain, yang pasti membuat Bintang mulai menjauhi Raini. Sehari, dua hari sampai seminggu berlalu Raini dibuat bingung oleh sikap jaga jarak yang dilakukan Bintang. Raini akhirnya memutuskan untuk bertanya ke Bintang, karena Raini tidak ingin mereka berdua menjadi benar-benar musuhan. Poin-poin pertanyaan yang diajukan Raini dijawab cuek dan santai oleh Bintang, “okeh Bintang, meski kita sering bertengkar tidak penting, setidaknya sekarang saya tau kamu dan saya tidak benar-benar musuhan”. Tetapi jawaban Bintang tidak diikuti oleh perubahan sikap Bintang ke Raini, Bintang tetap menjaga jarak dan meminimalisir interaksi dengan Riani. Riani tidak lantas diam, dia berusaha sedemikian rupa agar suasana akrab versi mereka kembali ada namun hingga di satu titik Raini merasa jenuh karena Bintang tetap menghiraukan.

Tidak terasa jadwal penempatan tahap 2 akan segera keluar sehari lagi. Raini masih rindu oleh Bintang yang dulu. Saat kelas sedang kosong Riani mencuri kesempatan untuk duduk di kursi nya Bintang. Ya benar, hujan dan bintang tidak akan pernah muncul secara bersamaan. Sayang sekali. Seketika Raini merasakan ada rasa yang menjalar  di hatinya dan disaat bersamaan “ngapain di sana?”. Raini sontak terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan kertas Bintang, lalu wajah Bintang berubah pucat pasi. Keduanya saling menatap, terdiam, lalu berpaling dan kembali menjauh. Tanpa mereka saling tahu, muka keduanya memanas dan tak berapa lama air mata menetes di kedua pipi masing-masing.

Pengumuman:

Bintang Putra Aksara ditempatkan di Langit bagian Tengah wilayah 9

Rainita Martalia ditempatkan di Langit bagian Barat wilayah 5

3 tahun kemudian tanpa sengaja di sebuah pusat perdagangan untaian air dan embun, “Raini? Apa kabar kamu sekarang?” “kabar baik Bintang, kesini sama siapa?” bibir Bintang mendadak kelu, tetapi tak lama kemudian seorang gadis putih semampai menghampiri keduanya. “Raini kenalkan ini pasangan saya” “hallo, panggil aja saya Bulan”. Muka Raini memanas dengan ekspresi dibuat-buat lalu membalas uluran tangan Bulan. Begitulah tipe kamu Bintang. “Sayang, aku sudah menemukan cincin buat pertunangan kita besok. Eh, teman kamu?” “oiah Bintang, kenalin ini calon suami saya. Claudio”. Bintang mengulurkan tangannya. Inilah kita Raini, putri dari suku hujan tidak akan bersatu dengan putra dari suku bintang.

Dan keduanya berlalu, saling membelakangi dan saling bergumam dalam hati. “suku hujan memang untuk suku awan” “… dan suku bintang ditakdirkan untuk suku bulan”. Lalu kata cinta tertelan oleh hukum alam dan tak sempat terucap.

Cinta sampai Disini

Bip..

“ahh bbm si sayang, pasti mau ngucapin anniversary ke 5 tahun kita pacaran deh. So sweet pasti nih”

Sayang, maaf

Sepertinya kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan pacaran kita ini,

Handphone Tia dengan manis meluncur dari tangan, berhamburan di lantai. Mata Tia kosong setelah membaca bbm dari kekasihnya itu. Tia keluar dari kamar kos nya, menyusuri dengan lunglai jalan setiabudi yang lengang di tengah malam. Malam jum’at terseram yang pernah Tia alami.

***

“yah bbm gw yang baris terakhir pending”

(pending) Karena aku rasa kita sudah layak ke jenjang selanjutnya sayang. Will you marry me, hon?

“gak kenapa deh, semoga Tia belum tidur dan masih di kosan”

Ginda sumringah menyetir mobil menuju kosan Tia, lagu-lagu romantis nya Kahitna menyelimuti malam jum’at terindah bagi nya. Tak sabar Ginda bertemu dan menatap wajah kekasih yang sangat dia sayangi.

“yess, belokan terakhir menuju kosan Tia. Sayangg, I’m coming.”

Ginda sibuk merapihkan bunga dan boneka yang duduk manis di kursi samping. Ginda terlalu bersemangat hingga

BUK..

Dentuman keras mobil Ginda dengan sebuah tubuh berhasil menyadarkan Ginda. Rem mobil diinjaknya keras, meski terlambat. Sesosok tubuh sudah terlanjur terkulai lemas di depan mobil Ginda. Seakan ada petir menyambar, Ginda terduduk lemas ketika dia melihat tubuh berlumuran darah itu adalah Tia. Dengan hati-hati Ginda merangkul tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa.

“arrrghhhh!” Ginda meraung-raung sambil tetap memeluk tubuh Tia yang mungil, tubuh orang yang dia sayangi.

***

Sebulan sudah Ginda terkurung di penjara. Sejak diputuskan sebagai tersangka, Ginda akhirnya mendapat hukuman penjara 3 tahun meski orang tua Tia sudah mengikhlaskan tetapi hokum tetap harus ditegakkan.

“bapak Ginda, kondisi tangan anda semakin memburuk. Langkah terbaik adalah mengamputasinya. Baik, tunggu disini ya pak, saya akan mengurus persiapannya.”

Lebih baik begitu, mungkin dengan begitu bisa menembus rasa bersalah gw sama Tia. Sudah sebulan gw kehilangan Tia, memukul-mukul jeruji penjara dan dinginnya tembok tidak sedikitpun mampu menahan rasa rindu gw selama ini ke Tia. Maafkan aku sayang, atau mungkin aku susul kamu saja? Yah, lebih baik aku susul kamu saja.

“bapak Ginda! tolong suster, panggil tim gawat darurat”.

Ginda tergeletak di lantai ruangan dokter, berlumur darah, dengan urat nadi di lengan sudah terputus dan pecahan kaca dalam genggaman, sesaat yang lalu ketika dokter sejenak meninggalkan ruangan prakteknya.

Selamat tinggal November, Sampai bertemu Sayang ku Tia.

Tulisan darah di lantai ruangan itu terlihat samar-samar.

sarkasme

ini cerita tentang orang tolol yang bertemu dengan orang tolol lainnya..

si tolol pertama kini telah menyadari ketololannya, dan berharap si tolol kedua sadar dan mengikuti jejaknya..

tapi, pilihan hidup itu keputusan tiap individu dan tidak bisa dipaksakan.

si tolol pertama menyerah, karena ketololan orang tolol yang kedua sudah sangat akut..

dia pun berteriak lantang

“heh TOLOL, selamat terperangkap di dunia khayalan mu yang penuh ketololan! saya berdoa semoga kamu tidak menambah daftar orang-orang tolol yang terpenjara selamanya disana. Saya cau dulu ya, tunggu surat saya yang indah dari dunia yang tidak lagi ada kata-kata Tolol di dalamnya.”

Tuan Bodoh

saya teringat akan sebuah cerita yang pernah saya lihat di salah satu anime “FRUIT BASKET”.

disana diceritakan tentang seorang pemuda yang terlalu polos, yang terlalu baik hingga mudah untuk dikelabui.

semua yang dimilikinya dengan mudah diminta oleh orang lain hingga suatu saat yang dimilikinya hanya sepasang bola mata. Lalu dia didatangi oleh sebuah makhluk yang memintabola matanya, dengan senang hati dia memberi dan makhluk itu memberinya secarik kertas. Dengan rasa takjub dan sangat berbahagia, pemuda itu berterimakasih, padahal itu hanya secarik kertas bertuliskan BODOH.

mungkin jika siapapun mendengar cerita ini pasti akan mencibir betapa sangat bodohnya pemuda itu. tapi satu hal, dia hanya ingin menjadi orang yang berguna, hanya ingin membahagiakan orang-orang itu, hanya ingin membuat mereka tersenyum, apapun akan dia lakukan untuk bisa melihat mereka bahagia.

Sederhana.

Apapun, tidak peduli seberapa bodohnya dia dinilai, seberapa banyak yang dia korbankan.

masih bodohkah pemuda itu dengan keinginannya?

masih bodohkah pemuda itu dengan pengorbanannya?

meski segala pengorbanannya tidak sebanding dengan apa yang dia dapat. Tapi dia bahagia atas itu semua.

ya.. bahagia dan ikhlas.

dan saya merasa seperti tuan bodoh itu belakangan ini