Category Archives: Parenthing

Matapena Yuk JOS Community

Pertama kali ikutan Matapena Yuk JOS (Jadi Orangtua Shalih) Community nya Abah Ihsan. Matapena itu adalah Majelis Tsaqofah Pengasuhan Anak, majelis taklim ala ala Abah Ihsan khusus alumni PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) untuk menjaga semangat alumni dalam belajar pengasuhan agar menjadi orang tua yang shalih sebelum meminta anak menjadi shalih. Matapena ini seriusan gratiss kecuali konsumsi yaa :p

Matapena kali ini diadakan di rumah makan model saung di Bintaro. Datang ke Matapena cuma boleh berdua sama suami alias anak < 1 tahun tidak boleh di ajak ikut alasannya jelas agar orang tua fokus dengan materi yang disampaikan. Oke, sekarang saya mau share ilmu yang saya dapat di acara Matapena yaa. Semoga bermanfaat.

Pada dasarnya fitrah manusia adalah menyukai dan membutuhkan hal-hal yang baru. Begitupula dengan anak kita. Anak adalah sumber kebaruan bagi orang tua, dimana akan selalu ada hal-hal baru yang ditunjukkan anak dari hari ke hari salah satunya adalah kosakata anak ataupun adab anak. Sehingga sebagai orangtua, kita perlu terus belajar dan mengupdate diri sendiri (jangan cuma update status di social media aja ya hihihi) agar bisa mengikuti ke’baru’an anak-anak kita.

Ngomong soal adab. Ada beberapa adab wajib yang perlu diajarkan kepada anak yaitu :

  1. Adab Makan
  2. Adab Bertamu
  3. Adab Toilet
  4. Adab Safar
  5. Adab Orang tua

Agar anak dapat diajarkan adab-adab di atas, sebagai orangtua perlu memiliki otoritas. Tanpa otoritas maka anak tidak akan melakukan perintah orangtua dan tidak meninggalkan apa yang dilarang. Karena pada dasarnya orangtua berhak menyuruh anak tapi tidak dengan sebaliknya. Anak tidak berhak menyuruh orangtua. Analogi sederhana nya adalah seorang panglima dapat memerintahkan prajuritnya sedangkan prajurit tidak bisa memerintah panglimanya.

Selain itu, orangtua telah melakukan banyak hal untuk anak seperti bekerja mencari nafkah, menyediakan tempat tinggal, makan-minum dan segala kebutuhan anak maka sekiranya anak harus “bekerja” untuk orangtua, sederhananya adalah menurut kepada orangtua. Tentu, sebagai orangtua pun tidak lantas semena-mena menyuruh anak. Misalnya saat anak sedang bermain dengan teman-temannya maka sebagai orangtua tidak lantas meng-cut kegiatan anak hanya untuk menyuruhnya ke warung.

Apabila anak tidak patuh dengan orangtua, orangtua berhak marah dan menindak (timeout). Jadi orangtua harus TEGA(S)! menindak apabila anak sudah melewati batas yaitu

  1. membahayakan dirinya atau orang lain
  2. merugikan dirinya atau orang lain
  3. melanggar norma agama & sopan santun

Timeout atau tindakan yang diberikan kepada anak tentu harus melihat profil anak seperti usia anak & kemampuan anak diajak berdiskusi. Contoh timeout : duduk diam di luar rumah / kursi khusus selama (usia) kali menit, mencabut / mengurangi haknya, mengurangi uang saku, dll. Apabila anak melewati batas di tempat umum atau di tempat keluarga yang belum tau aturan main yang berlaku maka konsekuensi tertunda dapat diberlakukan.

Sebenarnya menurut Abah Ihsan setiap manusia itu boleh marah tapi bukan marah yang :

  1. Menyakiti tubuh
  2. Memaki dengan kata tidak sepantasnya
  3. Merusak barang disekitar
  4. Membentak atau berteriak yang mengagetkan dan membuat syok

Perlu diketahui, ga ada anak yang ujug-ujug nurut dan patuh kepada orangtua nya. Maka diperlukan pembiasaan oleh orang tuanya. Awalnya mungkin anak akan merasa terpaksa menjalankan aturan-aturan yang ada namun dengan pendekatan yang baik dan contoh dari orangtua maka anak akan terbiasa dan tidak lagi merasa terpaksa.

Sebenarnya ya, yang membuat lelah dan memancing emosi orangtua adalah keinginan orangtua yang instan saat mendidik anak. Mau anak nya buru-buru mengerti dan nurut ataupun dikarenakan orangtua dikejar waktu sehingga kurang fokus dengan tujuan menyuruh anak.

Tujuan dari aturan atau perintah orangtua ke anak adalah agar anak disiplin. Namun, pendisiplinan terhadap anak itu perlu pengawasan maka buatlah aturan-aturan di rumah yang bisa diawasi orangtua. Apabila orangtua tidak sepenuhnya bisa mengawasi maka turunkan standarnya. Selain itu, baiknya tidak mendedikasikan pengawasan ke kakak atau adiknya karena bisa menimbulkan ketidakharmonisan hubungan saudara kandung hehehe.

Jadi, orang tua yang menginginkan “Deviden” dari anaknya maka perlu memberikan “Saham”. Sehingga ada PR yang harus dikerjakan orangtua :

Sediakan waktu untuk anak

  • Daily Time
    • Program Abah Ihsan yang kini sedang gencar digalakkan adalah 18-21 yaitu bermain, belajar, bercerita dengan anak dari pukul 18 sampai 21. Waktu ngariung dengan anak setiap harinya selama kurang lebih 3 jam. Jam nya si fleksibel ya mengikuti kebiasan di rumah masing-masing tapi tetap usahakan ada waktu ngariung setiap waktunya. Dimana tanpa gadget, tv, koran, dll
  • Private Time
    • sediakan waktu ber “kencan” dengan anak berdua saja
  • Family Time
    • luangkan waktu jalan-jalan bersama dengan keluarga tanpa gadget.

Memberikan kebebasan anak asal tidak berlebihan (lihat lagi point di atas, hal-hal yang dianggap berlebihan)

Harus tegas menindak anak apabila anak sudah berlebihan

  • Saat menindak anak kita harus kuat dengan rengekan dll nya. Pada anak juga ada hukum kekekalan ikhtiar. Anak akan melakukan bermacam cara agar merubah keputusan kita dari “Tidak” menjadi “Iya”. Saat kita sudah dibuat tidak nyaman dengan rengekan dll nya disitu anak merasa “menang” dan hal serupa akan menjadi senjatanya.
  • pernah dengar kan cerita-cerita dimana anak justru mengancam orangtua nya apabila anak tidak mendapatkan apa yang dia mau? atau cerita seorang bapak yang membelikan handphone dengan uang dua ribuan untuk anaknya hanya agar anaknya tidak mogok sekolah?

Tidak berbicara hal negatif ke anak atau di depan anak

  • Berhentilah melabeli anak dengan hal-hal negatif misal “iah ni, anak saya ini bandel sekali deh..” dll justru dengan label tersebut anak jadi percaya bahwa benar dia ini bandel.
  • Bagian ini yang kadang jadi peer para orangtua. Tanpa sadar mungkin kita pernah bilang “ga bisa diam banget si kamu” saat kita sedang terburu-buru tapi si anak malah asik lari-lari sehabis mandi sambil telanjang. Perlu orangtua tau, harusnya orangtua yang dapat mengatur gerakan anak bukan orangtua yang diatur ngejar-ngejar anak hihihi.
  • Anak itu pada hakikatnya memang tidak bisa diam entah kakinya, tangannya atau mulutnya. Nah, saat ingin anak diam (kaki & tangannya) buatlah mulutnya tidak diam dengan kita aktif mengajaknya bernyanyi atau ngobrol sambil kita memakaikan baju ke anak. Untuk anak di bawah 7 tahun masih mudah kok dialihkan tinggal kita nya aja sebagai orang tua harus kreatif.

Perbanyak kata-kata positif ke anak

  • Sebagai orangtua, kita perlu mengapresiasi apa yang anak kita kerjakan entah dengan kecupan atau kata-kata positif yang menyejukkan

Jadi orangtua yang dapat dipercayai anak

  • Ketika anak sudah menceritakan apapun ke orangtua itu adalah suatu pencapaian yang bagus. Kadang ya orangtua merasa “ge-er” sudah dekat dengan anak padahal menurut anak biasa aja buktinya masih ada hal-hal tertentu yang tidak diceritakan. Analogi sederhananya gini, saat kita ngobrol dengan teman baru atau teman kita saat ini terlihat seru dan menyenangkan tapi kan kita tidak menceritakan semua rahasia kita ke mereka kan? tentu kita akan memilih teman yang kita merasa nyaman yaa.. ternyata anak pun begitu ke orangtua.
  • Orangtua harus bisa memahami apa yang disukai anak tapi tidak harus menyukai hal yang sama. Setidaknya update lah agar ngobrolnya asik. Jadi tuh setiap mau ngobrol sama anak, intronya hal-hal sepele dulu baru masuk ke “nasihat-nasihat” jangan baru ketemu udah nasihatin, ngomingin dll yang ada anak males ngobrol sama kita
  • Tapi memahami bukan berarti menyetujui dan memenuhi semua keinginan anak, tetap harus ada screening otoritas orang tua apakah hal tersebut melewati batas? layak di “konsumsi” anak?

Begitulah sedikit ilmu yang bisa saya share dari acara Matapena, Senin 12 Des 2016 di Bintaro. Semoga apa yang saya bagikan dapat bermanfaat ya. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan.

Jadi, sebelum meminta anak yang sholeh kita harus menjadi orangtua sholeh dulu ya

Regards,

Ibunya Aisha

 

 

Advertisements

KENAPA ANAKKU SUSAH BANGET SIH DISURUH SHOLAT ?

Nara Sumber : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Saya bergabung di berbagai forum diskusi parenting. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil didalamnya. Terutama dari diskusi harian para Orangtua yang suka galau menghadapi anaknya. Kasus ini salah satunya 🙂 

“Anak saya susah sekali disuruh sholat, habis wudhu gak bersegera sholat, main dulu, ini itu dulu gak ada habisnya.”

Termasuk saya pernah mengalami hal ini 🙂

“Gimana caranya membiasakan ibadah sholat pada anak?, anak saya masih suka malas-malasan ketika sholat?
Saya yakin gak sendirian mengalami hal ini hehehe..
Sebelum memberikan solusi apa yang harus dilakukan?

Kita harus menjawab hal berikut :

1. Berapa Usia Anak Kita 

2. Berapa umur yang diperintahkan Rasululullah untuk anak mulai mengerjakan sholat? Mengagetkannya banyak ortu sudah ngotot ngajak anaknya sholat dari umur yang sangat dini, balita bahkan. 

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa’u Ghalil, no. 247)

Mengajak  sholat sedini mungkin itu boleh-boleh saja, tapi yang gak boleh jadi memaksa dan mengharuskan anak yang belum usia wajibnya.‎ Belum boleh dimarahi jika belum mengerjakan. 

Katakan pada anak : ” Bunda sangat senang, kakak belum berumur 7 tahun sudah sholat, luar biasa.Tapi kalo kakak sudah mulai umur 7 tahun, kakak sudah harus sholat 5 waktu.Rasulullah bilang, sholat dimulai dr umur 7 tahun, dan harus dipaksa jika tidak mengerjakan, bahkan dipukul.”

Karena judul sholatnya baru belajar, maka sholatnya harus berjamaah atau ditemani, sekalipun bunda sedang berhalangan.  Gak ada cerita bunda suruh anak sholat, bundanya malah asyik2 nonton tv atau repot didapur. Sholat sendiri bukanlah pilihan untuk anak. Hal ini juga mengacu pada keutamaan sholat berjamaah menurut rasulullah
Sholatlah diawal waktu, jangan terbiasa menunda2 sholat
TAULADAN dari Orangtua sangat penting, tanyakan dulu pada diri sendiri, buat yang anaknya laki-laki sudah sholat berjamaah di masjidkah? Buat yang anaknya perempuan sudahkah sholat di awal waktu ?. 

Dari sini anak melihat betapa pentingnya ibadah sholat bagi Orangtuanya, karena saat adzan memanggil, ayah dan ibunya segera meninggalkan pekerjaannya dan memenuhi panggilanNya.

Kita harus memastikan anak mendapat nilai2 agama/kebaikan setiap harinya.
KENALKAN anak pada TUHANNYA sebelum sampai pada perintah Ibadah wajib‎ . Kabar Gembisa sebelum peringatan, Nikmat sebelum Adzab, Syurga sebelum Neraka.

BERKISAH, Kisah-kisah yang harus diselesaikan sebelum mencapai usia 7 tahun yaitu Kisah 25 Nabi, Asmaul Husna, Rasul dan para sahabatnya, kisah orang-orang sholeh dan binatang dalam Al-qur’an.  

Anak-anak akan melihat betapa bertaqwanya Orang-orang terdahulu kepada Tuhannya.

Dari Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiallahu anhu berkata:
Dulu kami saat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam masih berusia remaja, kami belajar Iman sebelum kami belajar Al Quran. Ketika kami belajar Al Quran, maka bertambahlah iman kami.

Dan kalian hari ini belajar Al Quran sebelum Iman

(HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Kabir dan dishahihkan oleh Al Albani)..‎‎

“Rayakan” moment ketika anak menginjak usia 7 tahun. 

Maksudnya disini adalah, bukan rayakan sesungguhnya. Tambahkan previllage buat anak ketika sudah menginjak usia ini, bertepatan dengan datangnya kewajiban akan sholat.

Jika 5 langkah diatas sudah dikerjakan tapi masih “mampir” setelah wudhu dan menunda. Maka tarik Nafas, senyum lalu hampiri anak, gandeng tangannya “kak yuk kita sholat” dengan lemah lembut. Jangan buat anak lari dari ibadahnya 🙂

  Firman Allah Ta’ala:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imron (3): 159)
Semoga bermanfaat 

Konsep Kepemilikan

Oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fans Page: abah ihsan official
This is very important Mom & Dad! Swear!

Mengajarkan konsep kepemilikan (prinsip isti’dzan) pada anak dari kecil sangat bemanfaat untuk buah hati Anda belajar menghargai. Jika dibiasakan, hasilnya, kepada saudaranya saja ia tidak akan berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin. Apalagi barang orang lain bukan?
It’s different!

Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit dan tidak berbagi. Ini sangat beda jauh. Mengajarkan konsep kepemilikan juga tidak mengajarkan anak untuk egois dan jadi terus berantem. It’s totally different.

Mari kita mulai dengan salah satu cerita berikut ini:

“Abah, anak sulung saya 5 tahun kurang, adiknya 16 bulan. Si sulung kalo liat APAPUN yangg dipegang adiknya (makanan, buku, mainan, pokonya APAPUN) pasti direbut dengan kasar sambil bilang “punya aku!!” Ya si adik menangislah dengan hebohnya karena langsung asik di pegang tau-tau dijabel.

Kami ayah dan bundanya selalu menerapkan apapun yang ada di rumah kita adalah milik bersama jadi boleh dipakai oleh siapapun, boleh berbagi, bergantian. Tapi ya gitu deh, kejadiannya selalu terulang lagi dan lagi. Jadinya saya kelepasan agak marah sama Si kakak gara-gara ini.
Harus gimana yaa sikap saya-nya ke Si kakak maupun adik?”

Sungguh dalam konteks ini, menganggap semua barang yang juga sudah dikasi ke satu orang anak MENJADI MILIKI BERSAMA adalah tidak FAIR! Mari kita rubah dengan mengajarkan KONSEP KEPEMILIKAN pribadi dan ini sangat jauh berbeda dengan KONSEP MILIK BERSAMA.  Tentu saja tanpa menghilangkan masih ada barang-barang di rumah yang menjadi milik ‘public’ sehingga semua orang termasuk anak kita juag boleh menggunakannya. Dengan diajarkan konsep kepemilikan anak-anak belajar untuk menghargai privasi orang lain. kecuali, benar-benar barang itu memang milik umum yang tidak ditujukan untuk satu orang anak (televisi, kursi, dll)

Saat seorang ayah memberikan satu mainan sama si kakak, maka totally barang itu sekarang milik Kakak bukan milik ayah lagi. Demikian juga saat ibu memberikan satu barang sudah dikasi ke adik, maka barang itu sekarang miliki adik, bukan milik ibu lagi.

Maka, setelah itu akan berlaku bahwa semua orang TIDAK BOLEH menggunakan barang orang lain tanpa izin. Termasuk barang saudaranya. Seorang kakak boleh menggunakan mainan, pinsil, atau apapun punya adik, jika dan hanya jika meminta izin pada adik dan adik mengizinkan.  Bahkan, saat saya MEMINJAM PINSIL ANAK SAYA, maka saya akan minta izin pada anak saya. Karean ketika saya memberikan pinsip anak saya, maka saya sudah meng-akadkan barang itu miliki anak saya.

Bisa saja bagi saya tanpa sepengetahuan anak saya untuk menggunakan pinsip itu tanpa izin anak saya. Lah wong uangnya dari saya. Tapi saya tidak memilih jalan itu. Saya ingin memuliakan anak saya. Saya ingin menghargai anak saya. Bahwa ia punya privasinya sendiri.

Pada kenyataannya, jika terjalin ikatan emosional positif orangtua anak, maka sampai saat ini rasanya sangat jarang anak-anak saya, insya Allah, untuk tidak mengizinkan saya menolak ‘peminjaman’ itu. Ini baru contoh sepele.
Tapi prinsipnya harus kita pegang: Seorang ayah atau seorang bunda yang telah memberikan mainan untuk si kakak, ketahuilah barang itu menjadi miliki si kakak. karena itu orangtua tidak berhak mengatakan “BARANG ITU KAN DARI MAMA JUGA YANG BELIKAN, JADI BARANG ITU PUNYA MAMA JUGA!”
Saat orangtua memberikan barang sama si kakak, maka ia telah berakad memberikan barang punya kakak, maka sejak saat itulah barang itu miliki si kakak, bukan milik orangtua lagi.
Ini berlaku juga untuk si Adik jika adik hendak menggunakan barang kakak, maka hanya boleh jika minta izin dan diizinkan oleh si kakak.
Untuk menerapkannya tentu butuh ketegasan dan konistensi dari orangtua. Pada praktiknya orangtua akan diuji oleh: kemarahan, tangisan, rengekan, rayuan, bujukan dari seorang anak.  Ketegasan kita akan menentukan berhasilnya konsep ini atau tidak pada anak kita.

Apa gunanya mengajarkan konsep kepemilikan di rumah kita untuk masa depan anak? Perhatikan, jika kita bisa mengaplikasinnya di rumah, dampaknya insya Allah akan luar biasa bagi anak kita.
Lah dengan saudara sendiri saja ia tidak berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin, apatah lagi kepada orang lain bukan? Ia takkan seenaknya menggunakan, memanfaatkan barang orang lain tanpa hak!
Insya Allah ini menjadi habbit yang berharga untuk masa depan anak di tengah hari orang begitu seenaknya untuk menjarah barang dari toko orang lain saat kerusuhan, menjarah ‘pulsa’ telepon kantor untuk kepentingan pribadi, menjarah uang perusahaan dengan memark-up biaya proyek atau biaya perjalanan dinas dan lain sebagainya.

DELETE kamus kuno seorang kakak harus mengalah sama adik!

Kebenaran harus ditentukan oleh kebenaran itu sendiri, bukan oleh usia. Bahwa seorang adik akan menangis karena si kakak tidak mengizinkan, itu sih biasa. Insya allah jika kita konsisten, nangisnya tidak berlangsung lama. Dan hanya menjadi bentuk kekecewaan sementara dari anak. Jika kita konsisten, anak akan tahu bahwa menangisnya tidak akan pernah menjadi pembenaran untuk mengambil barang yang bukan miliknya tanpa izin.

Jika barang itu memang tidak diakadkan dari awal miliki satu orang anak, berarti memang barang ini MILIKI BERSAMA seperti televisi, komputer yang hanya satu, sofa, meja makan dll. Maka solusi untuk soal ini adalah buat SOP bersama. Misalnya “siapa yang duluan menggunakan maka ia berhak lebih dahulu menggunakan”, maka yang belakangan tidak berhak untuk menyerobot. Atau SOP lain adalah bergantian.  Tentang ini saya telah membahasnya secara detail dalam tulisan saya yang lain “BERANTEM ITU BAIK” (silahkan baca tulisan saya tentang mengelola berantem anak di sini: http://www.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/berantem-itu-baik/433233745699)

Turunan dari SOP dan aturan tadi adalah seorang anak berhak dan boleh membela diri jika barangnya diambil tanpa izinya. Saat mainan adik diambil kakak, maka adik berhak untuk mengambilnya kembali jika tanpa izin adik dan juga sebaliknya. Orangtua boleh ikut intervensi jika ada kekuatan tidak seimbang (si kakak memiliki tenaga lebih kuat sehingga dapat mengintimidasi si adik untuk memaksanya memberikan).  Orangtua di sini boleh bertindak sebagai ‘penguasa’ yang memang mengatur jalannya ‘pemerintahan’ sehingga tidak ada ‘rakyatnya’ yang dirugikan oleh orang lain hanya karena tidak berdaya.

Mempertahankan hak adalah kewajiban. Karena itu juga saat seseorang didzalimi ia boleh membela diri atau bahkan untuk melawan! dan bukan malah sebaliknya: MENGAJARKAN MENGALAH!

Bahwa damai adalah baik itu sudah tidak usah diragukan, tapi damai tidaklah sama dengan kita diam dan mengalah saat orang lain merampas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kita. Damai berarti kita mencari cara-cara sehingga semua pihak tidak ada yang dirugikan dengan cara-cara yang tidak destruktif.

Apakah menerapkan konsep kepemilikan sama dengan mengajarkan anak pelit? Wah ini sangat berbeda dan memang beda judul. Perbedaan ini seperti antara timur dan barat.
Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit. Mengajarkan anak untuk berbagi (kebalikan pelit) tentu adalah kewajiban kita orangtua. Tetapi mengajarkan berbagi tidaklah sama dengan mengajarkan anak untuk diam saat haknya diambil oleh orang lain.

Anak harus difahamkan dulu tentang kepemilikan. Saat anak sudah faham tentang ini, barulah di waktu lain anak diajarkan berbagi. Maksudnya begini: misalnya saat seorang adik ngambil mainan punya kakak, seorang kakak berhak untuk tidak mengizinkan atau memberi pinjam mainan tersebut. Tanpa paksaan siapapun. Tetapi di waktu lain, di waktu yang lebih tenang, kita ajarkan bahwa berbuat baik, memberi, termasuk memberikan pinjaman adalah kebaikan.

“Begini nak, kamu boleh makan kue kamu sendiri jika kamu suka, tapi jika kamu membagi kue kamu untuk saudara kamu dan saudara kamu senang, maka itu jauh lebih baik dan akan dinilai kebaikan oleh Allah”.

@abahihsan