Category Archives: Parenthing

Kajian Matapena Bekasi

Kala Cita dan Cinta Hadir di Hati Ananda

Bekasi, 21 September 2017 @ Rs.Hermina

Kali ini Matapena kebagian di tanggal merah di Bekasi Kota pulak deket deh yaa dari rumah. Sebenernya sempat galau mau datang apa ga gegara udah beberapa sabtu ikut pelatihan. Alhamdulillah dikuatkan hati dan ga nyesel deh yaa dateng ketemu Abah Ihsan (baik hati) Baihaqi.

Materi ini sesungguhnya masih kejauhan buat aku yang mana anak-anaknya masih gemess belum sebesar hantu. Tapi etapi waktu kan berlalu cepat bener yaaa mana tau tetiba dihadapkan sama anak yang mau kuliah atau mau mantu. Ini aja liat-liat sekolah PG sama TEKA udah tarik-hembus nafas hahaha.

Awal-awal pembicaraan dibuka dengan pendapat abah yang mengatakan ga ada tuh pubertas ke dua di usia 40an yang harusnya diperbanyak di usia tersebut adalah kebaikan dan manfaat kebanyak orang. Ketika kita sebagai orangtua yang berusia 40an berarti kan anak kita kurang lebih di usia 20an ya, jadi harusnya fokus mempersiapkan anak menjadi orangtua dan pasangan yang sholeh/sholehah. 

Beberapa ketrampilan atau pengetahuan yang harus diajarkan menurut abah

  • Ketrampilan dalam memahami cinta & pendidikan seksual

Poin ini biasanya bikin deg-deg an orangtua untuk menjelaskan tapi menurut abah bagian ini justru lebih baik diedukasi sebelum baligh karena hormon nya belum ada. Poin ini harusnya orangtua yang menjelaskan dan memberitahu daripada anak berselancar sendiri. 

Ceritakan ke anak bahwa nanti akan hadir masa dimana Allah menciptakan rasa suka, sayang, cinta kepada lawan jenis dan rasa itu alami. Namun caranya harus mengikuti aturan dari yang menciptakan rasa itu, aturan Allah untuk cara yang halal dan di luar aturan Allah untuk cara yang haram. 

Apabila belum siap maka tahan rasa itu, disimpan dan ditunda penyampaiannya karena tidak semua rasa boleh langsung disampaikan. Misal ketemu orang yang jelek lalu seketika bilang “kamu jelek” apakah tidak menyakiti hati orang itu.

Karena apabila perasaan itu tersampaikan dan diterima baik maka ada rasa ingin selalu bertemu, lalu nyaman dan hormon mulai aktif. Untuk anak yang belum dewasa secara emosional ada banyak rerentetan peristiwa yang mungkin dapat terjadi setelahnya.

Sebagai orangtua pun haruslah minta maaf terlebih dahulu jika anak mengetahui bahwa dulu orangtua nya berpacaran sebelum waktunya. Sampaikan bahwa kita menyesal dan sangat sayang kepada anak kita sehingga tidak ingin itu terjadi.

Dan nanti akan ada momen dimana mungkin anak kita didekati seseorang “misal anak perempuan di kasih coklat oleh anak lelaki nah sebagai orangtua harusnya lebih perhatian ke anak ya kasih bunga kek, kado kek, coklat kek, ajak nonton bioskop kek dll nya biar anak ga gampang digombali gitu loh” kata abah. 

  • Ketrampilan domestik

Baik anak perempuan ataupun laki-laki harus dibekali ilmu dalam hal-hal domestik rumah tangga seperti mengurus anak, mencuci baju (baik manual ataupun dengan mesin cuci), bagaimana memperlakukan pasangan dengan mulia.

Mengenai ketrampilan bebersih, abah menyarankan dari usia 7 tahun anak sudah harus diberikan kemandirian

Berikut 12 melatih kemandirian anak yang bisa kita latih sejak anak berusia 7thn :

  1. Mandi sendiri termasuk cara mandi junub
  2. Istinja 
  3. Sikat gigi
  4. Makan
  5. Bereskan, merapihkan kamar dan tempat tidur sendiri
  6. Memisahkan tempat tidur nya
  7. Mencuci peralatan makan sendiri
  8. Diberikan setidaknya satu tugas RT misal : menyiram tanaman, mencuci sepatu sekolah, dll sesuai usia
  9. Menyimpan barang yang sudah dipakai ditempatnya
  10. Adab berpakaian menutup aurat
  11. Diberikan otonomi mengelola keuangan
  12. Sudah mulai dibiasakan sholat

Lalu soal memuliakan pasangan, ada yang perlu diketahui bahwa semakin tua laki-laki akan semakin manja dan ingin diperlakukan lembut sedangkan semakin tua perempuan maka akan semakin tangguh, mandiri dan multi-tasking. 

Makanya suka ada miss understanding saat usia mulai dewasa dimana sikap “menye-menye” (apa ya bahasa baiknya) bagi istri itu udah bukan lagi masanya sedangkan bagi suami justru lagi butuhnya sikap “menye-menye” ini. 

Maka itu, lelaki yang tidak kuat imannya dan istrinya sudah terlalu mandiri, tangguh dll nya bisa tergoda dengan perempuan muda yang masih kinyis kinyis dan suka “menye-menye”. Karena pada dasarnya lelaki itu udah keras jadi harus diperlakukan lembut. 

  • Ketrampilan bersosialisasi

Sebagai manusia dewasa harus semakin memberikan manfaat kepada lingkungan dimana ia berada. Semakin sering berkumpul dengan orang-orang yang sering menebarkan hal positif dan bermanfaat. 

Maka ajarkan anak kita untuk berempati, berbagi, menolak secara halus dan baik, serta berkomunikasi yang sopan dengan beberapa orang yang memiliki berbagai background. 

Karena sesungguhnya menikah itu bukan hanya menyatukan 2 orang melainkan 2 keluarga bahkan lebih luas lagi.

  • Ketrampilan jadi hamba Allah

Ajarkan anak kita mengenal Allah, mempelajari setiap aturan yang sudah dibuat Allah dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang sudah Allah berikan. 

Dalam mendidik anak menurut abah ada 2 hal yaitu targhib yaitu motivasi dan tarhib yaitu pembiasaan dengan paksaan.

Jadi sebagai orangtua, perlu adanya membuat sebuah kebiasaan dengan paksaan seperti membiasakan anak perempuan menutup aurat.

Sebuah aturan perlu diberlakukan paksaan terlebih dahulu agar secara tidak sadar akan menjadi sebuah kebiasaan. Misal nih duluu pengendara motor banyak yang tidak pakai helm atau helm batok kelapa alias asal tempel sampai akhirnya polisi tegas dan konsisten meminta pengendara memakai helm SNI. Padahal kan ga ada keuntungannya ya buat para polisi ini selain untuk keselamatan si pengendara sendiri.

Begitupun Allah membuat aturan, itu semua ya demi keselamatan hambanya. Keteraturan di Bumi dan semesta. Dll

  • Ketrampilan terlatih dalam kesulitan

    Anak harus dilatih dalam kesulitan karena tempaan tersebut dapat membuat anak berpikir dewasa dan menjadi mandiri. Misal memfasilitasi anak hanya sampai usia tertentu, membiayai kuliah saja, dll.

    Mengajak anak berperan aktif dalam menentukan langkah hidupnya ke depan terutama dalam hal pendidikan. Sebagai orangtua dalam menentukan sekolah/pendidikan anak sampai SD mendapat 100% keputusan, dari SMP – SMA keputusan 50% orangtua dan 50% anak,  untuk kuliah 100% keputusan anak namun orangtua bisa mengajukan beberapa pertimbangan seperti jurusan yang diambil dan biaya pendidikan.

    Saat menentukan jenjang kuliah, seharusnya anak sudah bisa berpikir akan keputusan yang diambilnya. Apa baik-buruknya dan bagaimana pertanggungjawaban ke orangtua.

    Apabila orangtua menginginkan jurusan tertentu yang harus diambil anak, seharusnya dari kecil buat anak tertarik bukan memaksakan saat kuliah ingin diambil.
    Kurang lebih begitu matapena bekasi yang baruuu sempat di posting.

    Happy Reading Happy Sharing

    Advertisements

    Matapena Yuk JOS Community

    Pertama kali ikutan Matapena Yuk JOS (Jadi Orangtua Shalih) Community nya Abah Ihsan. Matapena itu adalah Majelis Tsaqofah Pengasuhan Anak, majelis taklim ala ala Abah Ihsan khusus alumni PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) untuk menjaga semangat alumni dalam belajar pengasuhan agar menjadi orang tua yang shalih sebelum meminta anak menjadi shalih. Matapena ini seriusan gratiss kecuali konsumsi yaa :p

    Matapena kali ini diadakan di rumah makan model saung di Bintaro. Datang ke Matapena cuma boleh berdua sama suami alias anak < 1 tahun tidak boleh di ajak ikut alasannya jelas agar orang tua fokus dengan materi yang disampaikan. Oke, sekarang saya mau share ilmu yang saya dapat di acara Matapena yaa. Semoga bermanfaat.

    Pada dasarnya fitrah manusia adalah menyukai dan membutuhkan hal-hal yang baru. Begitupula dengan anak kita. Anak adalah sumber kebaruan bagi orang tua, dimana akan selalu ada hal-hal baru yang ditunjukkan anak dari hari ke hari salah satunya adalah kosakata anak ataupun adab anak. Sehingga sebagai orangtua, kita perlu terus belajar dan mengupdate diri sendiri (jangan cuma update status di social media aja ya hihihi) agar bisa mengikuti ke’baru’an anak-anak kita.

    Ngomong soal adab. Ada beberapa adab wajib yang perlu diajarkan kepada anak yaitu :

    1. Adab Makan
    2. Adab Bertamu
    3. Adab Toilet
    4. Adab Safar
    5. Adab Orang tua

    Agar anak dapat diajarkan adab-adab di atas, sebagai orangtua perlu memiliki otoritas. Tanpa otoritas maka anak tidak akan melakukan perintah orangtua dan tidak meninggalkan apa yang dilarang. Karena pada dasarnya orangtua berhak menyuruh anak tapi tidak dengan sebaliknya. Anak tidak berhak menyuruh orangtua. Analogi sederhana nya adalah seorang panglima dapat memerintahkan prajuritnya sedangkan prajurit tidak bisa memerintah panglimanya.

    Selain itu, orangtua telah melakukan banyak hal untuk anak seperti bekerja mencari nafkah, menyediakan tempat tinggal, makan-minum dan segala kebutuhan anak maka sekiranya anak harus “bekerja” untuk orangtua, sederhananya adalah menurut kepada orangtua. Tentu, sebagai orangtua pun tidak lantas semena-mena menyuruh anak. Misalnya saat anak sedang bermain dengan teman-temannya maka sebagai orangtua tidak lantas meng-cut kegiatan anak hanya untuk menyuruhnya ke warung.

    Apabila anak tidak patuh dengan orangtua, orangtua berhak marah dan menindak (timeout). Jadi orangtua harus TEGA(S)! menindak apabila anak sudah melewati batas yaitu

    1. membahayakan dirinya atau orang lain
    2. merugikan dirinya atau orang lain
    3. melanggar norma agama & sopan santun

    Timeout atau tindakan yang diberikan kepada anak tentu harus melihat profil anak seperti usia anak & kemampuan anak diajak berdiskusi. Contoh timeout : duduk diam di luar rumah / kursi khusus selama (usia) kali menit, mencabut / mengurangi haknya, mengurangi uang saku, dll. Apabila anak melewati batas di tempat umum atau di tempat keluarga yang belum tau aturan main yang berlaku maka konsekuensi tertunda dapat diberlakukan.

    Sebenarnya menurut Abah Ihsan setiap manusia itu boleh marah tapi bukan marah yang :

    1. Menyakiti tubuh
    2. Memaki dengan kata tidak sepantasnya
    3. Merusak barang disekitar
    4. Membentak atau berteriak yang mengagetkan dan membuat syok

    Perlu diketahui, ga ada anak yang ujug-ujug nurut dan patuh kepada orangtua nya. Maka diperlukan pembiasaan oleh orang tuanya. Awalnya mungkin anak akan merasa terpaksa menjalankan aturan-aturan yang ada namun dengan pendekatan yang baik dan contoh dari orangtua maka anak akan terbiasa dan tidak lagi merasa terpaksa.

    Sebenarnya ya, yang membuat lelah dan memancing emosi orangtua adalah keinginan orangtua yang instan saat mendidik anak. Mau anak nya buru-buru mengerti dan nurut ataupun dikarenakan orangtua dikejar waktu sehingga kurang fokus dengan tujuan menyuruh anak.

    Tujuan dari aturan atau perintah orangtua ke anak adalah agar anak disiplin. Namun, pendisiplinan terhadap anak itu perlu pengawasan maka buatlah aturan-aturan di rumah yang bisa diawasi orangtua. Apabila orangtua tidak sepenuhnya bisa mengawasi maka turunkan standarnya. Selain itu, baiknya tidak mendedikasikan pengawasan ke kakak atau adiknya karena bisa menimbulkan ketidakharmonisan hubungan saudara kandung hehehe.

    Jadi, orang tua yang menginginkan “Deviden” dari anaknya maka perlu memberikan “Saham”. Sehingga ada PR yang harus dikerjakan orangtua :

    Sediakan waktu untuk anak

    • Daily Time
      • Program Abah Ihsan yang kini sedang gencar digalakkan adalah 18-21 yaitu bermain, belajar, bercerita dengan anak dari pukul 18 sampai 21. Waktu ngariung dengan anak setiap harinya selama kurang lebih 3 jam. Jam nya si fleksibel ya mengikuti kebiasan di rumah masing-masing tapi tetap usahakan ada waktu ngariung setiap waktunya. Dimana tanpa gadget, tv, koran, dll
    • Private Time
      • sediakan waktu ber “kencan” dengan anak berdua saja
    • Family Time
      • luangkan waktu jalan-jalan bersama dengan keluarga tanpa gadget.

    Memberikan kebebasan anak asal tidak berlebihan (lihat lagi point di atas, hal-hal yang dianggap berlebihan)

    Harus tegas menindak anak apabila anak sudah berlebihan

    • Saat menindak anak kita harus kuat dengan rengekan dll nya. Pada anak juga ada hukum kekekalan ikhtiar. Anak akan melakukan bermacam cara agar merubah keputusan kita dari “Tidak” menjadi “Iya”. Saat kita sudah dibuat tidak nyaman dengan rengekan dll nya disitu anak merasa “menang” dan hal serupa akan menjadi senjatanya.
    • pernah dengar kan cerita-cerita dimana anak justru mengancam orangtua nya apabila anak tidak mendapatkan apa yang dia mau? atau cerita seorang bapak yang membelikan handphone dengan uang dua ribuan untuk anaknya hanya agar anaknya tidak mogok sekolah?

    Tidak berbicara hal negatif ke anak atau di depan anak

    • Berhentilah melabeli anak dengan hal-hal negatif misal “iah ni, anak saya ini bandel sekali deh..” dll justru dengan label tersebut anak jadi percaya bahwa benar dia ini bandel.
    • Bagian ini yang kadang jadi peer para orangtua. Tanpa sadar mungkin kita pernah bilang “ga bisa diam banget si kamu” saat kita sedang terburu-buru tapi si anak malah asik lari-lari sehabis mandi sambil telanjang. Perlu orangtua tau, harusnya orangtua yang dapat mengatur gerakan anak bukan orangtua yang diatur ngejar-ngejar anak hihihi.
    • Anak itu pada hakikatnya memang tidak bisa diam entah kakinya, tangannya atau mulutnya. Nah, saat ingin anak diam (kaki & tangannya) buatlah mulutnya tidak diam dengan kita aktif mengajaknya bernyanyi atau ngobrol sambil kita memakaikan baju ke anak. Untuk anak di bawah 7 tahun masih mudah kok dialihkan tinggal kita nya aja sebagai orang tua harus kreatif.

    Perbanyak kata-kata positif ke anak

    • Sebagai orangtua, kita perlu mengapresiasi apa yang anak kita kerjakan entah dengan kecupan atau kata-kata positif yang menyejukkan

    Jadi orangtua yang dapat dipercayai anak

    • Ketika anak sudah menceritakan apapun ke orangtua itu adalah suatu pencapaian yang bagus. Kadang ya orangtua merasa “ge-er” sudah dekat dengan anak padahal menurut anak biasa aja buktinya masih ada hal-hal tertentu yang tidak diceritakan. Analogi sederhananya gini, saat kita ngobrol dengan teman baru atau teman kita saat ini terlihat seru dan menyenangkan tapi kan kita tidak menceritakan semua rahasia kita ke mereka kan? tentu kita akan memilih teman yang kita merasa nyaman yaa.. ternyata anak pun begitu ke orangtua.
    • Orangtua harus bisa memahami apa yang disukai anak tapi tidak harus menyukai hal yang sama. Setidaknya update lah agar ngobrolnya asik. Jadi tuh setiap mau ngobrol sama anak, intronya hal-hal sepele dulu baru masuk ke “nasihat-nasihat” jangan baru ketemu udah nasihatin, ngomingin dll yang ada anak males ngobrol sama kita
    • Tapi memahami bukan berarti menyetujui dan memenuhi semua keinginan anak, tetap harus ada screening otoritas orang tua apakah hal tersebut melewati batas? layak di “konsumsi” anak?

    Begitulah sedikit ilmu yang bisa saya share dari acara Matapena, Senin 12 Des 2016 di Bintaro. Semoga apa yang saya bagikan dapat bermanfaat ya. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan.

    Jadi, sebelum meminta anak yang sholeh kita harus menjadi orangtua sholeh dulu ya

    Regards,

    Ibunya Aisha

     

     

    KENAPA ANAKKU SUSAH BANGET SIH DISURUH SHOLAT ?

    Nara Sumber : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

    Saya bergabung di berbagai forum diskusi parenting. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil didalamnya. Terutama dari diskusi harian para Orangtua yang suka galau menghadapi anaknya. Kasus ini salah satunya 🙂 

    “Anak saya susah sekali disuruh sholat, habis wudhu gak bersegera sholat, main dulu, ini itu dulu gak ada habisnya.”

    Termasuk saya pernah mengalami hal ini 🙂

    “Gimana caranya membiasakan ibadah sholat pada anak?, anak saya masih suka malas-malasan ketika sholat?
    Saya yakin gak sendirian mengalami hal ini hehehe..
    Sebelum memberikan solusi apa yang harus dilakukan?

    Kita harus menjawab hal berikut :

    1. Berapa Usia Anak Kita 

    2. Berapa umur yang diperintahkan Rasululullah untuk anak mulai mengerjakan sholat? Mengagetkannya banyak ortu sudah ngotot ngajak anaknya sholat dari umur yang sangat dini, balita bahkan. 

    “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa’u Ghalil, no. 247)

    Mengajak  sholat sedini mungkin itu boleh-boleh saja, tapi yang gak boleh jadi memaksa dan mengharuskan anak yang belum usia wajibnya.‎ Belum boleh dimarahi jika belum mengerjakan. 

    Katakan pada anak : ” Bunda sangat senang, kakak belum berumur 7 tahun sudah sholat, luar biasa.Tapi kalo kakak sudah mulai umur 7 tahun, kakak sudah harus sholat 5 waktu.Rasulullah bilang, sholat dimulai dr umur 7 tahun, dan harus dipaksa jika tidak mengerjakan, bahkan dipukul.”

    Karena judul sholatnya baru belajar, maka sholatnya harus berjamaah atau ditemani, sekalipun bunda sedang berhalangan.  Gak ada cerita bunda suruh anak sholat, bundanya malah asyik2 nonton tv atau repot didapur. Sholat sendiri bukanlah pilihan untuk anak. Hal ini juga mengacu pada keutamaan sholat berjamaah menurut rasulullah
    Sholatlah diawal waktu, jangan terbiasa menunda2 sholat
    TAULADAN dari Orangtua sangat penting, tanyakan dulu pada diri sendiri, buat yang anaknya laki-laki sudah sholat berjamaah di masjidkah? Buat yang anaknya perempuan sudahkah sholat di awal waktu ?. 

    Dari sini anak melihat betapa pentingnya ibadah sholat bagi Orangtuanya, karena saat adzan memanggil, ayah dan ibunya segera meninggalkan pekerjaannya dan memenuhi panggilanNya.

    Kita harus memastikan anak mendapat nilai2 agama/kebaikan setiap harinya.
    KENALKAN anak pada TUHANNYA sebelum sampai pada perintah Ibadah wajib‎ . Kabar Gembisa sebelum peringatan, Nikmat sebelum Adzab, Syurga sebelum Neraka.

    BERKISAH, Kisah-kisah yang harus diselesaikan sebelum mencapai usia 7 tahun yaitu Kisah 25 Nabi, Asmaul Husna, Rasul dan para sahabatnya, kisah orang-orang sholeh dan binatang dalam Al-qur’an.  

    Anak-anak akan melihat betapa bertaqwanya Orang-orang terdahulu kepada Tuhannya.

    Dari Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiallahu anhu berkata:
    Dulu kami saat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam masih berusia remaja, kami belajar Iman sebelum kami belajar Al Quran. Ketika kami belajar Al Quran, maka bertambahlah iman kami.

    Dan kalian hari ini belajar Al Quran sebelum Iman

    (HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Kabir dan dishahihkan oleh Al Albani)..‎‎

    “Rayakan” moment ketika anak menginjak usia 7 tahun. 

    Maksudnya disini adalah, bukan rayakan sesungguhnya. Tambahkan previllage buat anak ketika sudah menginjak usia ini, bertepatan dengan datangnya kewajiban akan sholat.

    Jika 5 langkah diatas sudah dikerjakan tapi masih “mampir” setelah wudhu dan menunda. Maka tarik Nafas, senyum lalu hampiri anak, gandeng tangannya “kak yuk kita sholat” dengan lemah lembut. Jangan buat anak lari dari ibadahnya 🙂

      Firman Allah Ta’ala:
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imron (3): 159)
    Semoga bermanfaat 

    Konsep Kepemilikan

    Oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
    Fans Page: abah ihsan official
    This is very important Mom & Dad! Swear!

    Mengajarkan konsep kepemilikan (prinsip isti’dzan) pada anak dari kecil sangat bemanfaat untuk buah hati Anda belajar menghargai. Jika dibiasakan, hasilnya, kepada saudaranya saja ia tidak akan berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin. Apalagi barang orang lain bukan?
    It’s different!

    Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit dan tidak berbagi. Ini sangat beda jauh. Mengajarkan konsep kepemilikan juga tidak mengajarkan anak untuk egois dan jadi terus berantem. It’s totally different.

    Mari kita mulai dengan salah satu cerita berikut ini:

    “Abah, anak sulung saya 5 tahun kurang, adiknya 16 bulan. Si sulung kalo liat APAPUN yangg dipegang adiknya (makanan, buku, mainan, pokonya APAPUN) pasti direbut dengan kasar sambil bilang “punya aku!!” Ya si adik menangislah dengan hebohnya karena langsung asik di pegang tau-tau dijabel.

    Kami ayah dan bundanya selalu menerapkan apapun yang ada di rumah kita adalah milik bersama jadi boleh dipakai oleh siapapun, boleh berbagi, bergantian. Tapi ya gitu deh, kejadiannya selalu terulang lagi dan lagi. Jadinya saya kelepasan agak marah sama Si kakak gara-gara ini.
    Harus gimana yaa sikap saya-nya ke Si kakak maupun adik?”

    Sungguh dalam konteks ini, menganggap semua barang yang juga sudah dikasi ke satu orang anak MENJADI MILIKI BERSAMA adalah tidak FAIR! Mari kita rubah dengan mengajarkan KONSEP KEPEMILIKAN pribadi dan ini sangat jauh berbeda dengan KONSEP MILIK BERSAMA.  Tentu saja tanpa menghilangkan masih ada barang-barang di rumah yang menjadi milik ‘public’ sehingga semua orang termasuk anak kita juag boleh menggunakannya. Dengan diajarkan konsep kepemilikan anak-anak belajar untuk menghargai privasi orang lain. kecuali, benar-benar barang itu memang milik umum yang tidak ditujukan untuk satu orang anak (televisi, kursi, dll)

    Saat seorang ayah memberikan satu mainan sama si kakak, maka totally barang itu sekarang milik Kakak bukan milik ayah lagi. Demikian juga saat ibu memberikan satu barang sudah dikasi ke adik, maka barang itu sekarang miliki adik, bukan milik ibu lagi.

    Maka, setelah itu akan berlaku bahwa semua orang TIDAK BOLEH menggunakan barang orang lain tanpa izin. Termasuk barang saudaranya. Seorang kakak boleh menggunakan mainan, pinsil, atau apapun punya adik, jika dan hanya jika meminta izin pada adik dan adik mengizinkan.  Bahkan, saat saya MEMINJAM PINSIL ANAK SAYA, maka saya akan minta izin pada anak saya. Karean ketika saya memberikan pinsip anak saya, maka saya sudah meng-akadkan barang itu miliki anak saya.

    Bisa saja bagi saya tanpa sepengetahuan anak saya untuk menggunakan pinsip itu tanpa izin anak saya. Lah wong uangnya dari saya. Tapi saya tidak memilih jalan itu. Saya ingin memuliakan anak saya. Saya ingin menghargai anak saya. Bahwa ia punya privasinya sendiri.

    Pada kenyataannya, jika terjalin ikatan emosional positif orangtua anak, maka sampai saat ini rasanya sangat jarang anak-anak saya, insya Allah, untuk tidak mengizinkan saya menolak ‘peminjaman’ itu. Ini baru contoh sepele.
    Tapi prinsipnya harus kita pegang: Seorang ayah atau seorang bunda yang telah memberikan mainan untuk si kakak, ketahuilah barang itu menjadi miliki si kakak. karena itu orangtua tidak berhak mengatakan “BARANG ITU KAN DARI MAMA JUGA YANG BELIKAN, JADI BARANG ITU PUNYA MAMA JUGA!”
    Saat orangtua memberikan barang sama si kakak, maka ia telah berakad memberikan barang punya kakak, maka sejak saat itulah barang itu miliki si kakak, bukan milik orangtua lagi.
    Ini berlaku juga untuk si Adik jika adik hendak menggunakan barang kakak, maka hanya boleh jika minta izin dan diizinkan oleh si kakak.
    Untuk menerapkannya tentu butuh ketegasan dan konistensi dari orangtua. Pada praktiknya orangtua akan diuji oleh: kemarahan, tangisan, rengekan, rayuan, bujukan dari seorang anak.  Ketegasan kita akan menentukan berhasilnya konsep ini atau tidak pada anak kita.

    Apa gunanya mengajarkan konsep kepemilikan di rumah kita untuk masa depan anak? Perhatikan, jika kita bisa mengaplikasinnya di rumah, dampaknya insya Allah akan luar biasa bagi anak kita.
    Lah dengan saudara sendiri saja ia tidak berani menggunakan barang saudaranya tanpa izin, apatah lagi kepada orang lain bukan? Ia takkan seenaknya menggunakan, memanfaatkan barang orang lain tanpa hak!
    Insya Allah ini menjadi habbit yang berharga untuk masa depan anak di tengah hari orang begitu seenaknya untuk menjarah barang dari toko orang lain saat kerusuhan, menjarah ‘pulsa’ telepon kantor untuk kepentingan pribadi, menjarah uang perusahaan dengan memark-up biaya proyek atau biaya perjalanan dinas dan lain sebagainya.

    DELETE kamus kuno seorang kakak harus mengalah sama adik!

    Kebenaran harus ditentukan oleh kebenaran itu sendiri, bukan oleh usia. Bahwa seorang adik akan menangis karena si kakak tidak mengizinkan, itu sih biasa. Insya allah jika kita konsisten, nangisnya tidak berlangsung lama. Dan hanya menjadi bentuk kekecewaan sementara dari anak. Jika kita konsisten, anak akan tahu bahwa menangisnya tidak akan pernah menjadi pembenaran untuk mengambil barang yang bukan miliknya tanpa izin.

    Jika barang itu memang tidak diakadkan dari awal miliki satu orang anak, berarti memang barang ini MILIKI BERSAMA seperti televisi, komputer yang hanya satu, sofa, meja makan dll. Maka solusi untuk soal ini adalah buat SOP bersama. Misalnya “siapa yang duluan menggunakan maka ia berhak lebih dahulu menggunakan”, maka yang belakangan tidak berhak untuk menyerobot. Atau SOP lain adalah bergantian.  Tentang ini saya telah membahasnya secara detail dalam tulisan saya yang lain “BERANTEM ITU BAIK” (silahkan baca tulisan saya tentang mengelola berantem anak di sini: http://www.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/berantem-itu-baik/433233745699)

    Turunan dari SOP dan aturan tadi adalah seorang anak berhak dan boleh membela diri jika barangnya diambil tanpa izinya. Saat mainan adik diambil kakak, maka adik berhak untuk mengambilnya kembali jika tanpa izin adik dan juga sebaliknya. Orangtua boleh ikut intervensi jika ada kekuatan tidak seimbang (si kakak memiliki tenaga lebih kuat sehingga dapat mengintimidasi si adik untuk memaksanya memberikan).  Orangtua di sini boleh bertindak sebagai ‘penguasa’ yang memang mengatur jalannya ‘pemerintahan’ sehingga tidak ada ‘rakyatnya’ yang dirugikan oleh orang lain hanya karena tidak berdaya.

    Mempertahankan hak adalah kewajiban. Karena itu juga saat seseorang didzalimi ia boleh membela diri atau bahkan untuk melawan! dan bukan malah sebaliknya: MENGAJARKAN MENGALAH!

    Bahwa damai adalah baik itu sudah tidak usah diragukan, tapi damai tidaklah sama dengan kita diam dan mengalah saat orang lain merampas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kita. Damai berarti kita mencari cara-cara sehingga semua pihak tidak ada yang dirugikan dengan cara-cara yang tidak destruktif.

    Apakah menerapkan konsep kepemilikan sama dengan mengajarkan anak pelit? Wah ini sangat berbeda dan memang beda judul. Perbedaan ini seperti antara timur dan barat.
    Mengajarkan konsep kepemilikan tidak berarti mengajarkan anak pelit. Mengajarkan anak untuk berbagi (kebalikan pelit) tentu adalah kewajiban kita orangtua. Tetapi mengajarkan berbagi tidaklah sama dengan mengajarkan anak untuk diam saat haknya diambil oleh orang lain.

    Anak harus difahamkan dulu tentang kepemilikan. Saat anak sudah faham tentang ini, barulah di waktu lain anak diajarkan berbagi. Maksudnya begini: misalnya saat seorang adik ngambil mainan punya kakak, seorang kakak berhak untuk tidak mengizinkan atau memberi pinjam mainan tersebut. Tanpa paksaan siapapun. Tetapi di waktu lain, di waktu yang lebih tenang, kita ajarkan bahwa berbuat baik, memberi, termasuk memberikan pinjaman adalah kebaikan.

    “Begini nak, kamu boleh makan kue kamu sendiri jika kamu suka, tapi jika kamu membagi kue kamu untuk saudara kamu dan saudara kamu senang, maka itu jauh lebih baik dan akan dinilai kebaikan oleh Allah”.

    @abahihsan